DPR Setuju Revisi Biaya Gedung Baru

Kompas.com - 05/09/2010, 22:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia akhirnya menyetujui revisi perhitungan pembangunan gedung baru DPR yang dikritik sebagian besar masyarakat karena dinilai terlalu mahal. Dari perhitungan awal Rp 1,8 triliun untuk 27 lantai berikut pembangunan kontruksi sipil dan isi gedung serta informasi dan teknologi atau IT, kini biaya tersebut direvisi lebih murah menjadi Rp 1,5 triliun dengan 36 lantai.

Ruangan spa dan rekreasi yang semula diberitakan dipastikan tidak ada lagi. Ketua DPR-RI Marzuki Ali menyatakan hal itu di sela-sela buka puasa bersama pimpinan partai politik koalisi pendukung Presiden SBY-Wakil Presiden Boediono di Puri Indah Cikeas, Nagreg, Bogor, Jawa Barat, Minggu (5/9/2010) malam.

"Oleh sebab itu, besok, Senin, akan saya kumpulkan semuanya, termasuk konsultannya. Saya cuci otaknya. Masa, Gedung Parlemen disebutnya ada spa dan lain-lain. Itu, kan, mencederai rakyat. Harusnya dia sadar, Gedung Parlemen itu bukan untuk leisure (bersenang-senang). Gedung itu untuk kerja. Masa gedung untuk kerja ada ruangan kaya gitu," tandasnya.

Marzuki mengaku sebenarnya tidak ada rencana membangun ruangan spa dan ruang rekreasi di Gedung DPR, Senayan. "Jadi, saya pastikan tidak ada ruangan itu. Sebetulnya, dari awal memang tidak ada. Kami semuanya terkaget-kaget mendengar adanya ruang itu," tambahnya.

Tak perlu repotkan Presiden Lebih jauh, Marzuki mengatakan, rencana pembangunan gedung baru DPR itu terkait dengan keinginan masyarakat untuk meningkatkan kinerja DPR. Gedung yang ada sekarang ini kapasitasnya hanya 800 orang. Padahal, jika 560 orang anggota Dewan dikalikan lima orang staf ahli yang akan dimiliki anggota DPR untuk meningkatkan kinerjanya, maka jumlahnya akan menjadi 2.240 orang sehingga perlu gedung baru untuk menampung mereka.

"Kalau tidak dibangun gedung baru, kan overload. Mau ditampung di mana tambahan lima staf ahli untuk 560 anggota DPR itu?" tanya Marzuki.

Menurut Marzuki, gedung DPR sekarang ini sudah melebihi kapasitas. "Sekarang ini, mari kita berpikir logis dan rasional. DPR tidak pernah mengada-ada, kok. DPR yang sekarang ini hanya melanjutkan saja. Karena konsultannya sudah dibayar, anggarannya juga sudah disiapkan," ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua DPP Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa, yang juga Menteri Koordinator Perekonomian, membantah kalau ada perpecahan suara di partai koalisi pendukung pemerintah. Namun, ia mengakui partainya meminta agar pembangunan gedung baru DPT ditunda untuk sementara waktu sambil perhitungan ulang.

"Memang, ada juga yang intinya meminta hanya direvisi dan pembangunan dilanjutkan," ujarnya, tanpa mau merinci partai yang dia maksud.

Hatta menegaskan, agar semangat itu jangan berlebih-lebihan dan harus disesuaikan dengan kondisi sekarang yang dinilai sangat mendesak dalam hal anggaran. "Fraksi kami beranggapan agar ada baiknya dana tersebut diarahkan dulu untuk alokasikan pertahananan sehingga pembangunannya ditunda dulu sambil dihitung lagi," ujarnya.

Ditanya apakah perpecahan suara itu sudah diketahui oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Hatta mengaku tidak ada perpecahan sehingga Presiden tidak ikut campur .

Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum juga mengaku, masalah pembangunan gedung baru DPR tidak perlu disampaikan kepada Presiden karena tidak perlu merepotkan Presiden. Namun, ia setuju jika biaya pembangunan gedung baru DPR itu direvisi sebelum dibangun supaya tidak mahal.

"Akan tetapi, saya gariskan, jangan sampai ada fasilitas yang aneh-aneh. Buat apa spa? Kalau masih ada, sebaiknya dihapuslah. Itu sangat tidak pas," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau