Gedung baru dpr

Andai Gedung DPR Disayembarakan...

Kompas.com - 06/09/2010, 10:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana pembangunan gedung baru DPR menuai kontroversi karena proses perencanaan tidak berlangsung transparan. Publik seolah-olah di-fait accompli  oleh biaya pembangunan sebesar Rp 1,6 triliun tanpa mengerti kenapa biayanya demikian besar.

"Sampai saat ini tidak ada penjelasan yang memadai dan menyeluruh mengenai seluk-beluk pembangunan itu. Publik tidak mengerti sejauh mana gedung baru yang mahal itu dibutuhkan DPR. Apakah betul penggunaan gedung yang ada sudah efisien menampung kebutuhan anggota Dewan," ujar Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Endi Subijono dalam perbincangan dengan Kompas.com, Minggu (5/9/2010).

Ia menuturkan, DPR pernah mengundang IAI dalam sebuah rapat dengar pendapat pada tahun 2009 membicarakan soal rencana pembangunan gedung baru parlemen. Kala itu, menurut Endi, IAI mengusulkan sebuah proses yang transparan, yaitu sayembara rancang gedung. IAI menindaklanjuti usul itu dengan merumuskan panduan sayembara dan menyerahkannya kepada DPR.

"Sayembara adalah proses pelibatan publik yang demokratis. Tiap peserta dapat mengeksplorasi segala kemungkinan terkait kebutuhan DPR, apakah melakukan efisiensi terhadap gedung yang ada atau membangun gedung baru dengan biaya yang lebih murah," katanya.

Selain melibatkan para arsitek, sayembara juga dapat melibatkan masyarakat. Caranya, pada satu waktu tertentu hasil rancang bangun terpilih dipamerkan dan masyarakat bisa memberi masukan. "Saya percaya, jika prosesnya terbuka, masyarakat dilibatkan, DPR memberi penjelasan yang menyeluruh atas kebutuhannya, persoalannya tidak akan seperti sekarang," katanya. 

Pada bagian lain, Endi mengatakan, pembangunan gedung tidak semata-mata menyangkut desain dan biaya. Jika dikatakan bahwa gedung baru DPR dirancang untuk 50 tahun ke depan, ia mempertanyakan, sejauh mana rancang bangun gedung itu bersahabat dengan lingkungan.

"Ini soal konsep green building. Pernahkah dipresentasikan berapa operational cost untuk pemeliharaan gedung seluas 160.000 meter persegi? Apakah gedung ini memiliki konsep hemat energi? Untuk jangka panjang ini crucial. Lagi-lagi ini masalah transparansi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau