Haruskah Berkorban Demi Fashion?

Kompas.com - 06/09/2010, 19:30 WIB

KOMPAS.com - Banyak cara menjadi cantik. Salah satu caranya adalah melalui fashion, sepatu khususnya. Tahukah Anda, di luar sana banyak wanita rela melakukan banyak hal untuk bisa tampil gaya. Di China, pada zaman dulu, misalnya, mereka memaksakan diri menggunakan sepatu yang sangat sempit sedari kecil agar kakinya tidak tumbuh besar.

Di masa kini? Sebenarnya tak jauh berbeda, para wanita memaksakan diri untuk bisa mengenakan sepatu berhak tinggi dengan ujung yang super runcing. Padahal, saat mengenakan sepatu semacam ini, si pengguna terancam mengalami penyakit tulang yang berbahaya. Tak hanya itu, banyak wanita yang rela mengubah bentuk tubuhnya, supaya bisa mengikuti tren yang dibuat.

Di New York, misalnya, ahli tulang Suzanne Levine mengatakan, ia bisa mengoperasi setidaknya 6 pasang kaki wanita per minggunya. Mereka biasanya minta pengikisan kaki agar tampak lebih ramping. Tak hanya itu, ada pula operasi mini untuk kaki, seperti penghilangan lemak di daerah betis dan pergelangan kaki, hingga penyuntikan gel silikon untuk membuat kaki terlihat lebih seksi. Hm, padahal, kaki adalah bagian dari anugerah Tuhan.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencintai kaki Anda, nasihat dari Paola Jacobbi, penulis I Want Those Shoes:

* Ketahuilah, semakin bertambahnya usia, kaki kita cenderung bertambah panjang dan lebar. Percuma untuk memaksakan kaki masuk ke ukuran yang dulu. Biasanya hal ini mulai terjadi setelah usia 40-an.
* Cobalah untuk membeli sepatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari ukuran kaki Anda untuk memberikan ruangan bagi kaki Anda memuai.
* Untuk alasan yang di atas, akan lebih baik jika Anda membeli sepatu di malam hari, saat kaki berada pada ukuran terbesarnya, bukan di pagi hari.
* Saat membeli sepatu apa pun, baik itu high heels atau flat, jangan membeli sepatu yang tak nyaman sejak pertama kali dikenakan. Jangan percaya bahwa "lama-lama" juga enak. Tak semua sepatu punya kebiasaan seperti itu.
* Usahakan untuk tidak mengenakan sepatu yang sama dalam beberapa hari berturut-turut. Idealnya, gantilah setiap beberapa hari sekali untuk menghindari kemungkinan sepatu berubah bentuk dan agar kaki tidak terbiasa dengan satu bentuk yang sama.
* Jika memungkinkan, upayakan untuk memberikan waktu kaki untuk jalan tanpa alas.
* Setelah semalaman berdiri dan berjalan menggunakan sepatu berhak tinggi, pijat-pijat bagian tumit kaki dengan bola tenis.
* Lihat kaki ibu dan nenek Anda, kebanyakan deformasi kaki sifatnya turunan, dan bisa dicegah.
* Apa pun jenis sepatu yang Anda kenakan dan apapun bentuk kaki Anda, terimalah dan cintai. Rawat dengan cinta dan pedikur.

Apakah kita harus mengubah bentuk tubuh kita supaya bisa mirip wanita-wanita di halaman majalah fashion? Mengapa tidak mengoptimalkan dan merawat saja kecantikan tubuh anugerah Yang Maha ini sebaik mungkin?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau