Pelayaran

Naik Kapal Pelni Tetap Bisa Telepon

Kompas.com - 07/09/2010, 05:39 WIB

LAUT JAWA, KOMPAS.com - Para pemudik yang menggunakan kapal kini tak perlu khawatir akan terisolasi dari dunia luar. Pasalnya, semenjak tahun lalu, Telkomsel mulai membangun Base Transceiver Station (BTS) di 15 kapal milik Pelni.

Ke depan, seluruh kapal Pelni akan dilengkapi dengan BTS untuk kelancaran komunikasi di laut. "Ini merupakan perubahan fenomenal bagi masyarakat. Saat naik kapal biasanya merasa seperti ada di alam terpisah, sekarang dengan adanya BTS Telkomsel ini, sudah tidak merasa demikian lagi," ujar Manager Special Area and Business Development Telkomsel, Kholis Budiono, Senin (6/9/2010), di KM Gunung Dempo.

KM Gunung Dempo ini sedang mengangkut pemudik dari Jakarta ke Makassar, Sulawesi Selatan dan singgah di Surabaya. Kapal rakitan perusahaan galangan kapal Meyer Werft GmbH, Bernard Meyer Jerman itu berkapasitas 1583 penumpang beserta 141 awak kapal, dan mampu mengangkut hingga 98 TEUs (98 kontainer ukuran 20 feet).

Dengan hadirnya BTS di kapal Pelni ini, praktis seluruh produk Telkomsel seperti kartu Halo, kartu As, dan simPATI bisa dapat diaktifkan selama perjalanan di laut.

Sejak tahun 2009, Telkomsel membangun 15 BTS di kapal Pelni. Ke depannya, operator ponsel GSM tersebut akan menambah jumlah BTS hingga mencakup seluruh kapal Pelni yakni sebanyak 24 unit.

BTS Telkomsel ini mampu melayani transfer suara sebanyak 84 caller secara serentak dan transfer data dengan kecepatan mencapai 1,5 Mbps. "Karena pemakaian data di kapal tidak terlalu banyak maka kami sediakan 2 time slot dari 7-8 time slot. Sementara, untuk voice akan kami upgrade mencapai 96 caller serentak, terutama di KM Gunung Dempo yang trafficnya cukup ramai," ungkap Kholis.

Mengenai tarif, masyarakat yang menggunakan layanan jaringan Telkomsel di kapal akan dikenakan tarif flat yakni untuk suara Rp 1.050,-/menit dan SMS Rp 150,-/pesan.

Pemasangan tarif flat ini dikarenakan kapal merupakan zona wilayah khusus yang tidak bisa ditetapkan sebagai SLJJ atau SLJ. "Ini merupakan produk keempat yang dinamakan Telkomsel Merah Putih. Tapi, hingga saat ini belum ada masalah," katanya.

Menurut dia, masalah hanya terjadi saat mendarat biasanya jaringan dimatikan karena sudah ada jaringan dari darat. "Saat melaut lagi, kadang-kadang marchonist lupa untuk mengaktifkan lagi jadi ini yang diprotes masyarakat," ujarnya kepada Kompas.com.

Untuk mengadakan jaringan ponsel di kapal ini, Kholis mengaku kuncinya ada pada fungsi autotrack yang mendeteksi koordinat kapal sehingga bisa menghubungkan BTS di kapal dengan satelit.

Menurutnya, autotrack ini terutama sangat penting untuk Indonesia Timur karena memiliki lintang yang berbeda. Berdasarkan pantauan Kompas.com, sinyal yang ditangkap di KM Gunung Dempo memang hanya yang berasal dari Telkomsel.

Namun, untuk jam-jam tertentu, terutama saat malam hari, sinyal Telkomsel memang terkadang dimatikan sehingga tidak dapat digunakan untuk transfer data maupun suara.

Hal ini pula yang dikeluhkan Titi (31), pemudik KM Gunung Dempo dengan tujuan Makassar, Sulawesi Selatan. "Tadi malam mati sinyalnya. Tapi pas mau berangkat, saya telepon ke Kediri bisa, cuma pas malam udah nggak bisa lagi," ungkap Titi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau