JAKARTA, KOMPAS.com - Pucuk pimpinan tertinggi di Kejaksaan Agung akan ditinggalkan Hendarman Supandji dalam waktu dekat. Kedudukannya sebagai Jaksa Agung akan digantikan. Muncul pro-kontra apakah pengganti Hendarman harus dari kalangan internal atau harus orang luar.
Opsi kedua sepertinya lebih dipilih Adnan Buyung Nasution. Alasannya, Kejaksaan Agung sudah terkontaminasi. "Saya tidak setuju orang dalam. Kecuali memiliki seleksi luar biasa. Karena umumnya tubuh kejaksaan sudah terkontaminasi," ujar Adnan Buyung kepada Tribunnews.com, Selasa (7/9/2010).
Selain itu, Adnan Buyung memiliki kualifikasi bahwa calon Jaksa Agung adalah personifikasi luar biasa sebagai penegak hukum. Utamanya berani mengambil risiko. Maka, mereka yang semangatnya separuh, lebih baik balik badan. "Apalagi ragu-ragu, jangan dipilih," tegasnya.
Adnan Buyung menyebut beberapa nama mantan Jaksa Agung yang tegas. Sebut saja Mr. Gatot Taroenamihardja (Jaksa Agung pertama), Tirtawinata (Jaksa Agung periode RIS), dan R. Suprapto yang dikenal Bapak Kejaksaan Republik Indonesia.
Selain mereka, kata Adnan, masih banyak orang bersih yang memimpin Kejaksaan Agung. Dari sipil bahkan jenderal pernah menduduki jabatan politik ini karena dipilih berdasar hak prerogatif presiden. Di atas semua itu, Adnan tetap memilih agar sipil lah yang maju dengan catatan, bersih.
Ketika ditanya bagaimana kepemimpinan Hendarman dalam dua kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Adnan terus terang mengatakan tak ada gregetnya.
"Saya melihat kurang gregetnya, kurang prestasinya. Menurut saya di bawah standar. Khususnya korupsi," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang