Calon jaksa agung

Adnan Buyung: Pilih Orang Luar!

Kompas.com - 07/09/2010, 22:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pucuk pimpinan tertinggi di Kejaksaan Agung akan ditinggalkan Hendarman Supandji dalam waktu dekat. Kedudukannya sebagai Jaksa Agung akan digantikan. Muncul pro-kontra apakah pengganti Hendarman harus dari kalangan internal atau harus orang luar.

Opsi kedua sepertinya lebih dipilih Adnan Buyung Nasution. Alasannya, Kejaksaan Agung sudah terkontaminasi. "Saya tidak setuju orang dalam. Kecuali memiliki seleksi luar biasa. Karena umumnya tubuh kejaksaan sudah terkontaminasi," ujar Adnan Buyung kepada Tribunnews.com, Selasa (7/9/2010).

Selain itu, Adnan Buyung memiliki kualifikasi bahwa calon Jaksa Agung adalah personifikasi luar biasa sebagai penegak hukum. Utamanya berani mengambil risiko. Maka, mereka yang semangatnya separuh, lebih baik balik badan. "Apalagi ragu-ragu, jangan dipilih," tegasnya.

Adnan Buyung menyebut beberapa nama mantan Jaksa Agung yang tegas. Sebut saja Mr. Gatot Taroenamihardja (Jaksa Agung pertama), Tirtawinata (Jaksa Agung periode RIS), dan R. Suprapto yang dikenal Bapak Kejaksaan Republik Indonesia.

Selain mereka, kata Adnan, masih banyak orang bersih yang memimpin Kejaksaan Agung. Dari sipil bahkan jenderal pernah menduduki jabatan politik ini karena dipilih berdasar hak prerogatif presiden. Di atas semua itu, Adnan tetap memilih agar sipil lah yang maju dengan catatan, bersih.

Ketika ditanya bagaimana kepemimpinan Hendarman dalam dua kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Adnan terus terang mengatakan tak ada gregetnya.

"Saya melihat kurang gregetnya, kurang prestasinya. Menurut saya di bawah standar. Khususnya korupsi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau