Arus mudik

Jakarta-Cikopo 6 Jam

Kompas.com - 08/09/2010, 12:01 WIB

PURWAKARTA, KOMPAS.com — Padatnya kendaraan yang melaju di jalur tol di Jakarta memicu kemacetan dan penumpukan luar biasa. Waktu tempuh pun kian lama. Ade (25), pemudik asal Purwokerto, Jawa Tengah, yang berangkat dari rumahnya di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengaku berangkat mudik Rabu (8/9/2010) pukul 01.00. Namun, dia dan lima anggota keluarga baru tiba di Cikopo, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pukul 07.15.

"Sejak masuk Tol Dalam Kota, arus kendaraan sudah padat. Demikian pula di sepanjang jalan tol Jakarta-Cikampek. Kendaraan tidak bisa dipacu lebih dari 40 kilometer per jam," ujarnya.

Pada saat situasi arus lalu lintas normal, dia biasanya menempuh rute itu 2-3 jam perjalanan. Kini, selain jumlah kendaraan yang meningkat pesat, lamanya waktu tempuh turut dipicu oleh antrean panjang menjelang gerbang keluar.

Ade awalnya berniat menempuh jalur pantai utara dengan keluar melalui gerbang tol Kalihurip menuju Dawuan-Cikampek-Jomin. Namun, di Kilometer 66, petugas memintanya terus ke Cikopo dan mengarahkannya ke Sadang melalui jalur tengah Sadang-Subang-Cikamurang.

Sayangnya, jalur tengah tidak lebih lancar dari pantura. Keluar dari gerbang Cikampek, Ade sudah disambut kemacetan di ruas Cikopo-Sadang. Kendaraan merayap di jalur penghubung itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau