JAKARTA, KOMPAS.com - Meski setiap tahun mengalami penurunan jumlah pendatang baru, namun tidak membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berpuas diri. Oleh karena itu, Operasi Yustisi Kependudukan (OYK) akan tetap dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kaum urban datang ke Jakarta.
Pemprov memastikan OYK akan digelar pada H+7 Lebaran secara serentak di lima wilayah kota administrasi DKI Jakarta. Pendatang baru yang tidak memiliki keahlian apa pun dan tidak disertai surat resmi dari daerah asal, harus siap-siap dipulangkan kembali ke kampung halamannya.
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan Pemprov DKI sudah jauh-jauh hari melakukan sosialisasi ke daerah-daerah otonom yang berada disekitar kawasan Provinsi DKI Jakarta. Pihaknya meminta pemerintah daerah tetangga terus secara simultan melakukan sosialisasi agar penduduknya tidak pindah ke Kota Jakarta.
Selain itu, kepada para pemudik juga diberikan brosur tentang sosialisasi larangan pindah ke Jakarta tanpa persyaratan administrasi yang telah ditentukan.
"Bahkan dalam setiap kesempatan, saya selalu bilang ke pemudik, jangan terlalu mudah mengajak sanak saudara, kerabat dan tetangganya di daerah untuk mengadu nasib di Jakarta. Karena ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk bekerja di Jakarta. Mudah-mudahan langkah tersebut efektif untuk semakin menekan jumlah pendatang baru di Jakarta," kata Fauzi Bowo di selah-sela open house Hari Raya Idul Fitri 1431 H di rumah dinas Jalan Taman Suropati No.7, Jakarta Pusat, Jumat (9/9/2010).
Untuk mengantisipasi terjadinya pelonjakan pendatang baru, Fauzi mengungkapkan Pemprov DKI akan melakukan OYK yang dimulai H+7 Lebaran. “Para pendatang yang tidak memenuhi syarat dengan sangat menyesal akan kita kembalikan ke kampung halamannya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI, Franky Mangatas Panjaitan, menilai OYK cukup efektif menekan jumlah penduduk ilegal yang tidak memunuhi syarat untuk tinggal di Jakarta.
Hal itu tercermin dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pendatang baru terus mengalami penurunan jumlah. Yaitu, tahun 2004 sebanyak 190.356 jiwa, tahun 2005 sebanyak 180.767 jiwa, tahun 2006 sebanyak 124.427 jiwa, tahun 2007 sebanyak 109.617 jiwa dan 2008 menurun cukup signifikan, yaitu mencapai 88.473 jiwa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang