Insiden silaturahim di istana

Kasus Kematian Jhony Malela Ditutup

Kompas.com - 11/09/2010, 15:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Polisi menghentikan penyelidikan kasus kematian Jhony Malela, seorang tunanetra, yang tewas saat mengantre karena ingin ber-Lebaran dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jumat (10/9/2010).

"Kasus ini dihentikan karena keluarga korban tidak menuntut. Investigasinya sudah berhenti," kata Kepala Kepolisian Sektor Metro Gambir Komisaris Polisi Yossy Runtukahu ketika dihubungi wartawan, Sabtu (11/9/2010).

Yossy menuturkan, istri Jhony sepakat dengan hasil pemeriksaan medis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang menyebutkan bahwa kematian Jhony dipicu penyakit darah tinggi yang dideritanya. Menurut hasil pemeriksaan itu pula, tidak ditemukan luka fisik atau tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. "Istri korban menyatakan, suaminya memang sakit darah tinggi," katanya.

Dengan demikian, polisi tidak melanjutkan investigasi untuk mencari siapa oknum yang menyebarkan informasi bahwa pihak Istana Negara membagi-bagi uang sebesar Rp 300.000 bagi warga yang datang bersilaturahim dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Seperti diberitakan, Jhony tewas dalam insiden desak-desakan di pintu gerbang Istana, Jumat (10/9/2010) sore. Jhony Malela (45) meninggal lemas karena tidak kuat berdesakan dengan ratusan warga yang juga menunggu acara open house Lebaran di Istana Negara sekitar pukul 15.15.

Ribuan orang datang ke Istana Negara untuk bersilaturahim dengan Presiden. Sebagian dari mereka mendapat informasi bahwa Istana akan memberi amplop berisi uang sebesar Rp 300.000. Pihak Istana membantah informasi soal amplop tersebut. Dalam acara silaturahim kemarin, sejumlah tunanetra mengaku menerima amplop berisi uang sebesar Rp 100.000.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau