PD: Jangan Politisasi Kematian Jhony

Kompas.com - 11/09/2010, 20:45 WIB

JAKARTA, Kompas.com - Wasekjen DPP Partai Demokrat, Ramadhan Pohan, menyesalkan politisasi atas meninggalnya Jhony Malela, warga tunanetra yang antre untuk bersilaturahim dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di halaman Setneg Jakarta, Jumat (10/9/2010).

"Saya menyesalkan terjadinya politisasi meninggalnya Jhony, seolah-olah kesalahan SBY atau pemerintah SBY. Publik harus diajak rasional, bukan diprovokasi atau irasional," kata Ramadhan, yang juga Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, dalam pesan singkat yang diterima di Jakarta, Sabtu (11/9/2010).

Ramadhan juga menyesalkan bahwa kejadian tersebut didomplengi oleh LSM tertentu yang meresponnya secara berlebihan. Menurut dia, tidak proporsional dan tidak etis memprovokasi masyarakat dari isu meninggalnya seseorang.

Menurut Ramadhan, keluarga almarhum menyebutkan bahwa Jhony sebelumnya mengeluh sesak napas dan kecapean, serta pernah menderita tekanan darah tinggi dan jantung. Begitu juga keterangan kepolisian menyebutkan tidak ada tanda atau bekas penganiayaan.

"Pihak keluarga menerima ikhlas, dan almarhum pun sudah dimakamkan di Garut. Keluarganya saja sudah terima dan tak menyoalkannya. Kenapa 'aktivis' itu malah meradang dan tuding sana-sini. Bukankah lebih baik mereka mengumpulkan dana, mendonasikan kepada keluarganya, sebagai tanda simpati. Atau kasih solusilah. Jadi, bukan meruwetkan situasi," katanya.

Namun, Ramadhan yakin masyarakat Indonesia cerdas dan tak terpengaruh provokasi, agitasi, manuver murahan yang mempolitisasi wafatnya Jhoni.

"Pemerintah SBY sudah benar merespon dan bersimpati pada keluarga korban. Karena itu tak perlulah menghabiskan energi merespon provokasi LSM tertentu. Sasaran mereka sebenarnya pemerintah SBY, untuk mendelegitimasikannya. Tapi, mayoritas publik tak 'terbeli' agitasi itu," katanya.

Jhony Malela (45) warga Cinangka, Tangerang Selatan meninggal dunia saat berdesak-desakan antri bersama ratusan warga lain yang ingin berlebaran dengan Presiden SBY di Istana Negara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau