Setelah final tunggal putri yang berlangsung tanpa drama, final tunggal putra Grand Slam AS Terbuka tampaknya akan lebih menjanjikan laga epik. Meski impian final antara dua unggulan teratas Rafael Nadal dan Roger Federer sirna ditiup angin yang sejak dua pekan berembus kencang di New York, final tunggal putra tetap menjanjikan.
Nadal, seperti diperkirakan, melaju ke final menghadapi Novak Djokovic yang mendepak Federer di pertandingan semifinal yang memukau. Meski perjalanan Djokovic tidaklah semulus Nadal yang tidak kehilangan satu set pun dalam enam laga terdahulunya, petenis Serbia itu punya bekal penting, menggusur Federer yang lima kali mengangkat piala di AS Terbuka.
Bukan kemenangan semata. Djokovic berhasil mengatasi barikade mentalnya menghadapi Federer, petenis yang secara
Djokovic menyelamatkan satu match point dengan pukulan akrobatik voli forehand drive. Merupakan salah satu pukulan paling sulit, Djokovic melakukannya dengan sangat dingin dan nyaris membuat jantung kedua orangtuanya yang duduk di players box berhenti berdegup. Semenit kemudian, Djokovic memaksakan deuce lewat pukulan forehand topspin-nya yang menukik di sudut kanan bidang permainan Federer.
”Sejujurnya, saya hanya memejamkan mata dan berusaha memukul forehand sekeras mungkin saat match point,” ujar Djokovic yang kalah dalam tiga pertemuan sebelumnya di AS Terbuka melawan Federer.
Menutup mata barangkali tanda kepasrahan bagi Djokovic yang sepanjang kariernya baru merebut grand slam di Australia pada 2008. Meski begitu, bahasa tubuh petenis berusia 23 tahun itu sama sekali tidak menunjukkan kepasrahan. Meski mengaku sempat dihantui kekalahan lagi menghadapi sang maestro peraih 16 gelar grand slam, Djokovic tak mau menyerah begitu saja. Bahkan, pada poin-poin kritis dan servis pertamanya tidak bekerja baik, Djokovic tetap tenang dan sorot matanya selalu nyalang.
Itu sebabnya setelah lolos dari dua match point dan menyamakan kedudukan 5-5, permainannya semakin solid. Dia kemudian mematahkan servis Federer untuk unggul 6-5 dan melakukan servis untuk menang 7-5 di set akhir. Sebelumnya, meski kalah di set pertama, Djokovic secara umum lebih dominan dalam pengumpulan poin. Lewat laga yang melelahkan, Djokovic mengungguli Federer 5-7, 6-1, 5-7, 6-2, 7-5.
Beberapa jam sebelumnya, Nadal tanpa banyak kesulitan menyisihkan petenis Rusia, Mikhail Youzhny, 6-2, 6-3, 6-4.
Djokovic menyadari, laga final melawan Nadal sangat berat, apalagi petenis Spanyol itu sedang mengejar ambisi masuk jajaran elite petenis yang mampu meraih juara semua seri grand slam.
Sejauh ini, Nadal mengoleksi delapan gelar, lima di Perancis, dua di Wimbledon, dan satu di Australia. Nadal akan sejajar dengan sederet legenda, yakni Federer, Andre Agassi, Roy Emerson, Rod Laver, Don Budge, dan Fred Perry jika mampu mengalahkan Djokovic.
Tidak mudah bagi Nadal. Meski rekor pertemuannya dengan Djokovic, dia unggul 14-7, di hard court, Djokovic yang memimpin dengan 6-2. Apalagi, tiga laga terakhir, Djokovic selalu menang atas petenis nomor satu dunia itu.