Tenis as terbuka

Djokovic Atasi Barikade Mental untuk Hadapi Nadal

Kompas.com - 13/09/2010, 03:41 WIB

Setelah final tunggal putri yang berlangsung tanpa drama, final tunggal putra Grand Slam AS Terbuka tampaknya akan lebih menjanjikan laga epik. Meski impian final antara dua unggulan teratas Rafael Nadal dan Roger Federer sirna ditiup angin yang sejak dua pekan berembus kencang di New York, final tunggal putra tetap menjanjikan.

Nadal, seperti diperkirakan, melaju ke final menghadapi Novak Djokovic yang mendepak Federer di pertandingan semifinal yang memukau. Meski perjalanan Djokovic tidaklah semulus Nadal yang tidak kehilangan satu set pun dalam enam laga terdahulunya, petenis Serbia itu punya bekal penting, menggusur Federer yang lima kali mengangkat piala di AS Terbuka.

Bukan kemenangan semata. Djokovic berhasil mengatasi barikade mentalnya menghadapi Federer, petenis yang secara teknis ”paling sempurna” di antara jajaran elite dunia. Perjalanan nyaris berakhir di set kelima saat dia menghadapi double match point pada saat servis pada kedudukan game 15-40 dan set tertinggal 4-5.

Djokovic menyelamatkan satu match point dengan pukulan akrobatik voli forehand drive. Merupakan salah satu pukulan paling sulit, Djokovic melakukannya dengan sangat dingin dan nyaris membuat jantung kedua orangtuanya yang duduk di players box berhenti berdegup. Semenit kemudian, Djokovic memaksakan deuce lewat pukulan forehand topspin-nya yang menukik di sudut kanan bidang permainan Federer.

”Sejujurnya, saya hanya memejamkan mata dan berusaha memukul forehand sekeras mungkin saat match point,” ujar Djokovic yang kalah dalam tiga pertemuan sebelumnya di AS Terbuka melawan Federer.

Menutup mata barangkali tanda kepasrahan bagi Djokovic yang sepanjang kariernya baru merebut grand slam di Australia pada 2008. Meski begitu, bahasa tubuh petenis berusia 23 tahun itu sama sekali tidak menunjukkan kepasrahan. Meski mengaku sempat dihantui kekalahan lagi menghadapi sang maestro peraih 16 gelar grand slam, Djokovic tak mau menyerah begitu saja. Bahkan, pada poin-poin kritis dan servis pertamanya tidak bekerja baik, Djokovic tetap tenang dan sorot matanya selalu nyalang.

Itu sebabnya setelah lolos dari dua match point dan menyamakan kedudukan 5-5, permainannya semakin solid. Dia kemudian mematahkan servis Federer untuk unggul 6-5 dan melakukan servis untuk menang 7-5 di set akhir. Sebelumnya, meski kalah di set pertama, Djokovic secara umum lebih dominan dalam pengumpulan poin. Lewat laga yang melelahkan, Djokovic mengungguli Federer 5-7, 6-1, 5-7, 6-2, 7-5.

Beberapa jam sebelumnya, Nadal tanpa banyak kesulitan menyisihkan petenis Rusia, Mikhail Youzhny, 6-2, 6-3, 6-4.

Djokovic menyadari, laga final melawan Nadal sangat berat, apalagi petenis Spanyol itu sedang mengejar ambisi masuk jajaran elite petenis yang mampu meraih juara semua seri grand slam.

Sejauh ini, Nadal mengoleksi delapan gelar, lima di Perancis, dua di Wimbledon, dan satu di Australia. Nadal akan sejajar dengan sederet legenda, yakni Federer, Andre Agassi, Roy Emerson, Rod Laver, Don Budge, dan Fred Perry jika mampu mengalahkan Djokovic.

Tidak mudah bagi Nadal. Meski rekor pertemuannya dengan Djokovic, dia unggul 14-7, di hard court, Djokovic yang memimpin dengan 6-2. Apalagi, tiga laga terakhir, Djokovic selalu menang atas petenis nomor satu dunia itu. (joy)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau