Wah, Binatang Purba Itu Mulai Lapuk

Kompas.com - 13/09/2010, 08:51 WIB

KUDUS, KOMPAS.com Ratusan fosil purba atau sekitar 20 persen dari 1.100 fosil hasil temuan di kawasan Situs Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah, mulai lapuk. Hal itu disebabkan belum tersedianya tempat penyimpanan benda bersejarah yang cukup baik.

"Mayoritas benda fosil purba yang ditemukan memiliki usia geologis antara 700.000 tahun dan 1,5 juta tahun sehingga benda-benda bersejarah tersebut mudah lapuk jika tidak disimpan di tempat khusus yang dilengkapi pengatur suhu ruangan," kata Sancaka Dwi Supani, Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, di Kudus, Senin (13/9/2010).

Ia mengatakan, ratusan koleksi benda bersejarah tersebut disimpan di dua tempat berbeda, yakni di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus dan Balai Desa Terban, setelah sebelumnya disimpan di rumah warga setempat.

Benda-benda bersejarah tersebut ditemukan dalam bentuk serpihan. Sebagian lain masih utuh dan merupakan temuan sejak tahun 2005 hingga sekarang. "Bahkan, puluhan tahun yang lalu juga ada temuan fosil berupa pecahan tengkorak manusia, yang ditemukan oleh ahli dari ITB," ujarnya.

Adapun jenis fosil purba yang ditemukan meliputi fosil fauna, seperti fosil Bofidae (sejenis kerbau/banteng/rusa/sapi) dan Elepansi (sejenis gajah purba) yang diperkirakan memiliki usia geologis antara 700.000 tahun dan 1 juta tahun yang lalu.

Fosil fauna lainnya adalah Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas Sp (juga sejenis gajah purba), Ceruss zwaani dan Cervus lydekkeri martin (sejenis rusa), dan Rhinoceros sondaicus (badak).

Selain itu, ada pula Brachygnatus dubois (babi), Felis Sp (macan), Bos bubalus palaeokarabau (sejenis kerbau), Bos banteng alaeosondaicus, dan Crocodilus Sp (buaya).

"Rencananya akan dibuatkan museum khusus fosil purba. Tetapi, sampai saat ini belum bisa direalisasikan karena masih terkendala dana," ujarnya.

Pemerintah desa setempat, katanya, akan melakukan pembebasan lahan tanah "bengkok" desa seluas 7.500 meter persegi untuk pembangunan museum.

Berdasarkan master plan atau rencana besar yang dibuat tahun 2007, ia menjelaskan bahwa dana yang dibutuhkan untuk pembangunan museum dan sarana-prasarana lainnya, seperti jalan, gapura, dan ruang pamer untuk menunjang lokasi tersebut menjadi obyek wisata purba kala, mencapai Rp 16 miliar.

"Tetapi, master plan tersebut, perlu ditinjau kembali karena tidak up to date jika dibandingkan dengan kondisi sekarang," ujarnya.

Meskipun tempat penyimpanan benda-benda bersejarah saat ini belum memadai, katanya, perawatan tetap dilakukan secara rutin dengan mengandalkan dana yang ada.

Ia memaparkan, alokasi dana yang diterima dari APBD Kudus tahun 2010 hanya sekitar Rp 98 juta. Sekitar 49 persen di antaranya dialokasikan untuk perawatan, sedangkan sisanya untuk pembangunan fisik.

Agar tetap awet dan tidak mudah lapuk, katanya, benda-benda bersejarah tersebut diberi lapisan (coating). "Biayanya tentu tidak sedikit, tetapi tetap diupayakan agar benda-benda bersejarah tersebut tetap utuh seperti awal penemuan," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau