Tempat Wisata Dibanjiri Pengunjung

Kompas.com - 13/09/2010, 16:10 WIB

KUNINGAN, KOMPAS - Obyek wisata di Cirebon dan Kuningan dibanjiri pengunjung selama liburan Lebaran. Kepadatan pengunjung membuat lalu lintas menuju obyek wisata sempat macet total.

Membeludaknya jumlah pengunjung di sejumlah lokasi wisata di Cirebon dan Kuningan terjadi pada Jumat-Minggu (12/9). Di Cirebon, kepadatan wisatawan terlihat di daerah Trusmi, sentra batik di Cirebon. Sejumlah pembatik di Kampung Trusmi mengatakan, omzet mereka naik 20-50 persen dibandingkan hari biasa.

Yeti, pembatik di Trusmi Kulon, mengatakan, keramaian di Kampung Trusmi biasanya berlangsung hingga H+7 Lebaran. Akibatnya, lalu lintas di sekitar Pasar Pasalaran dan Weru, yang dekat dengan Kampung Trusmi, semakin padat. "Kebanyakan masih membeli batik cap yang murah, tapi ada juga yang mencari kain batik tulis khas Cirebon," kata Yeti.

Selain Trusmi, keramaian terpusat di tempat wisata sejarah dan tempat hiburan. Meski fasilitasnya jelek dan kumuh, Taman Ade Irma Kota Cirebon dipadati pengunjung asal Cirebon dan sekitarnya. Goa Sunyaragi dan Makam Sunan Gunung Jati juga banyak dikunjungi peziarah.

Menurut Elang Utama, pengelola tempat wisata Taman Air Goa Sunyaragi, sekitar 300 pengunjung datang setiap hari. Jumlah ini tergolong tinggi dibandingkan puluhan pengunjung pada hari libur biasa yang mendatangi taman air yang dibangun abad XVI itu.

"Pengunjung rata-rata dari luar Cirebon yang sedang mudik, tapi banyak pula warga Cirebon yang berlibur ke sini," kata Elang.

Di Kuningan, ribuan warga memadati kawasan wisata alam Kuningan seperti Curug Sidomba, pemandian air panas Sangkanhurip, Cibulan, dan Linggarjati Indah. Pengunjung rata-rata berasal dari keluarga pemudik asal Kuningan, Cirebon, atau Indramayu, yang datang berombongan dengan keluarga atau tetangga. Mereka menumpang truk, mobil bak terbuka, atau bus sewaan.
 
Berdesakan

Nuryaman (31), misalnya, rela berdesak-desakan di truk dengan istri dan dua anaknya agar bisa berwisata ke Curug Sidomba. Menurut dia, berwisata dengan tetangga sudah menjadi tradisi warga di kampungnya di Ranjeng, Kecamatan Losarang, Indramayu.

Lonjakan pengunjung di obyek wisata Kuningan, khususnya di daerah Cilimus-Bandorasa, sampai lima kali lipat dibandingkan angka kunjungan saat akhir pekan. Di pemandian air panas Cipanas, Sangkanhurip, pada hari pertama Lebaran jumlah pengunjung mencapai 1.400 orang, dan hari Lebaran kedua 3.000 pengunjung. Pada liburan akhir pekan, jumlah pengunjung rata-rata hanya 500 orang.

Banyaknya pengunjung obyek wisata di Kuningan mengakibatkan jalur lalu lintas di sepanjang Cirebon-Kuningan tiga hari terakhir macet. Kemacetan terjadi dari daerah Beber, Cirebon, yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan, hingga Cirendang, Kuningan. Titik kepadatan di Pasar Cilimus, pertigaan Caracas, pertigaan Linggarjati, dan persimpangan Bandorasa. Panjang kemacetan mencapai 10 km.

Meski arus lalu lintasnya padat, Polres Kuningan belum memberlakukan arus satu arah dari Cirebon ke Kuningan. Polisi hanya memberlakukan sistem buka tutup agar kendaraan dari arah berlawanan melintas bergantian. Dari lima jalur alternatif yang disiapkan, hanya satu jalur Mandirancan-Caracas yang digunakan untuk mengalihkan kendaraan dari Cirebon ke Kuningan. (NIT/THT)  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau