SHANGHAI, KOMPAS.com – Ketua Panitia Pelaksana World Expo 2010, Shanghai, China, Paviliun Indonesia, Mari Elka Pangestu, yang juga Menteri Perdagangan Indonesia, menyerukan, jadikanlah kota sebagai simpul kebudayaan, simpul transportasi dan ekonomi.
Ia menyampaikan hal itu seusai menerima pengunjung Paviliun Indonesia keenam juta, Yexin (8), warga Suzhou, China, di Paviliun Indonesia, Sabtu (11/9/2010) lalu.
Mari menyampaikan hal itu menanggapi tema World Expo, “Better City, Better Life”. Ia mengakui, membangun infrastruktur kota yang lebih baik di Indonesia saat ini masih perlu waktu lebih panjang. “Lebih rumit dan membutuhkan campur tangan banyak instansi pemerintah dan swasta,” kata Mari seperti dilaporkan wartawan Kompas Windoro Adi dari Shanghai.
“Tetapi pendeknya, dalam membangun infrastruktur kota dibutuhkan keseimbangan dan pertemuan-pertemuan kepentingan yang saling menguntungkan, win-win solution,” tambahnya.
Elka mengingatkan, kita harus terus menjaga dan mengembangkan hidup lebih baik di kota. "Kota harus bisa menjadi simpul kebudayaan yang terbuka bagi setiap kebudayaan yang masuk, baik dari luar negeri maupun dari wilayah lain di Indonesia,” tuturnya.
Sebagai simpul kebudayaan yang terbuka, lanjut Mari, sebuah kota harus pandai-pandai mengolah dan mengadopsi setiap kebudayaan yang masuk. “World Expo 2010 di Shanghai China ini sebagai contohnya. Warga Tiongkok berdatangan ke Shanghai melihat dan menyerap setiap kebudayaan bangsa lain di sini, lalu berusaha mengolahnya untuk kehidupan mereka yang lebih baik,” jelasnya.
Kebinekaan dan harmoni
Ia mengatakan, kota-kota di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan menyangkut kebinekaan dan harmoni. Menurut dia, untuk membangun kehidupan yang lebih baik (better life) di kota, seluruh warga kota harus bisa menghormati kebinekaan dan menjaga harmoni atas kebinekaan tersebut.
“Jika itu yang terjadi, maka sinergi antar-warga satu dengan warga lainnya yang hidup di kota—baik yang tinggal sementara atau permanen, bisa berkembang dan terus berkembang menjadi kekuatan membangun yang luar biasa,” ucap Elka.
Menurut dia, kota menjadi tempat pertemuan antara yang tradisional dan modern, pertemuan antaretnis, antaragama, dan antargolongan. “Dari tempat pertemuan inilah kita bisa menemukan berbagai kearifan lokal, kearifan bangsa-bangsa lain, kearifan agama-agama, dan kepercayaan lain untuk memperbaiki perilaku sosial, perilaku ekonomi, dan perilaku budaya yang lebih produktif dan bermartabat. Sudah seharusnya pertemuan-pertemuan ini tidak saling membinasakan, tetapi justru saling bersinergi satu sama lain,” papar Elka.
Ia mengatakan, seharusnya tindak kekerasan, teror, pemaksaan kehendak, dan berbagai tindak pidana di kota tidak diberi ruang lagi. Sebab, kota umumnya menjadi model gaya hidup dan perilaku sosial di desa. Dengan kata lain, kehidupan kota seharusnya menjadi contoh bagi kehidupan di desa.
Teknologi transportasi
Menurut dia, agar kota bisa menjadi simpul kebudayaan yang lebih terbuka, perlu dibangun jaringan transportasi massal lebih cepat dan lebih banyak. Elka kemudian merujuk pada Tiongkok. Untuk mempersiapkan transportasi massal menyambut World Expo di Shanghai, Pemerintah Tiongkok telah menambah jaringan kereta bawah tanah dari hanya tiga jaringan tahun 2006, menjadi 13 jaringan kereta saat ini.
“Lima tahun ke depan, Tiongkok akan membangun jalur kereta secara bertahap sampai ke beberapa negera Eropa, terutama Rusia,” ucap Elka. Ia menambahkan, saat ini seluruh kota di Tiongkok sudah memiliki stasiun-stasiun kereta modern yang mengendalikan jaringan kereta sampai pelosok.
“Kalau nanti jaringan kereta yang menghubungkan Tiongkok dengan sejumlah negara Eropa selesai, maka orang-orang dari pelosok terjauh Tiongkok pun bisa dengan mudah mencapai Eropa,” ujarnya.
Elka mengatakan, semakin banyak jaringan transportasi massal cepat dibangun, akan membuat semakin efisien kegiatan ekonomi nasional. “Jadi, baik secara kultural maupun ekonomi, pembangunan jaringan transportasi massal, sangat menguntungkan seperti sudah ditunjukkan Tiongkok,” tegasnya.
Pada bagian lain, Elka mengatakan, Indonesia sedang mengembangkan hubungan perdagangan dan investasi dengan Tiongkok. “Saat ini sudah ditandatangani nota kesepahaman antara Lembaga Pengembangan Expor Indonesia, dan China Exim Bank untuk mengembangkan investasi dan perdagangan,” tuturnya.
Lewat kerja sama ini, lanjut Elka, Indonesia berniat memperbaiki neraca perdagangan dengan Tiongkok sehingga lebih menguntungkan, serta melakukan penetrasi pasar ke Tiongkok.
Ekspo
Sampai hari Minggu (12/9/2010), World Expo 2010, Shanghai, China, telah dikunjungi hampir 51 juta orang. Dari jumlah tersebut, Paviliun Indonesia sudah dikunjungi lebih dari enam juta orang. Hari Sabtu (11/9/2010), Elka menyerahkan hadiah kepada Yexin (8), pengunjung keenam juta. Yexin adalah warga Suzhou. Ia mendapat hadiah dari panitia berupa menginap tiga hari dua malam di Pulau Bintan dan Hotel Borobudur, Jakarta. Akomodasi dan transportasi gratis.
Setiap hari, Paviliun Indonesia dikunjungi 50.000 pengunjung atau sekitar 10 persen dari total pengunjung World Expo. “Ini adalah bukti betapa warga Tiongkok menghargai Indonesia. Mereka melihat kilas sejarah kedua bangsa yang telah dimulai berabad lalu,” ucap Mari Pangestu.
Tanggal 15 Juli lalu, Paviliun Indonesia memenuhi target lima juta pengunjung. Sepekan sebelum tanggal itu, terpenuhi target tiga juta pengunjung. Pengunjung ketiga juta adalah Zou Si Cheng (26), seorang polisi warga Shanghai.
Paviliun Indonesia berada di zona B. Luas bangunan 2.400 meter persegi di atas lahan 4.000 meter persegi. Paviliun Indonesia terluas dan teramai pengunjung di antara paviliun negara Asia Tenggara lainnya. Paviliun Indonesia terbagi tiga zona, Zona Bio menampilkan kekayaan alam Indonesia, Zona Keragaman memamerkan peralatan komunitas tradisional dalam bercocok tanam dan kehidupan modern, dan Zona Kota yang ingin menunjukkan kearifan bangsa Indonesia dan area kuliner, yang menampilkan makanan dan minuman khas Indonesia.
World Expo China bertema "Better City Better Life". Menggagas bercampurnya ragam budaya di kota, kemakmuran kota, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi di kota, remodelling komunitas, dan interaksi antarkota dan daerah. Tema paviliun Indonesia, biodiverse city (keanekaragaman hidup di kota).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang