Sandal dan Sepatu Batik yang Unik

Kompas.com - 14/09/2010, 11:51 WIB

KOMPAS.com - Agnes sengaja memilih batik sebagai material utama produknya. Dia ingin batik dipakai dan dihargai kaum muda.

"Remaja selalu melihat batik sebagai kain yang hanya pantas dipakai orangtua, hanya untuk acara resmi, seperti acara undangan. Pandangan itu yang ingin saya ubah," tutur Agnes.

Melalui produknya, ia berharap batik bisa menjadi bagian keseharian kaum muda. Dia berharap kaum muda bisa mencintai batik.

Langkahnya dimulai dengan membuat jaket batik. Meski bertentangan dengan selera pasar, jaket yang cara pemasarannya hanya dipamerkan kepada kawan-kawan di kampus itu mendapat respons positif. Banyak temannya yang kemudian memesan jaket dengan capuchon dan kedua sisinya bisa dipakai bergantian itu.

Tes pasar ini dinilai Agnes cukup berhasil. Dia melihat ada peluang untuk mengkampanyekan batik kepada kaum muda.

Otaknya kembali berputar saat melihat limbah kain batik pembuatan jaket yang relatif banyak. Tak ingin limbah itu terbuang sia-sia, Agnes menyulapnya menjadi sepatu dan sandal batik.

"Saya memilih sepatu dan sandal karena kebutuhan batiknya sedikit," katanya.

Posisinya di Bandung juga menguntungkan, karena Agnes dengan mudah bisa mendapatkan penjahit yang sudah ahli. "Kualitas jahitannya bagus," katanya.

Dengan modal batik, penjahit andal, dan ilmu di bangku kuliah, Agnes mulai memproduksi sepatu dan sandal batik. Ia menciptakan desain sepatu dan sandal sesuai model yang sedang in agar produknya digemari anak muda.

Apabila saat itu sandal-sepatu Gladiator sedang musim, Kulkith tak ketinggalan. Jika sedang musim sandal dan sepatu flat, Agnes juga membuat model serupa, termasuk sepatu boot ala Dr Marten.

Inilah tantangan terbesar Agnes. Kreativitasnya diuji. Bagaimana dia bisa menciptakan desain unik dengan corak batik yang sesuai sehingga pas dengan selera anak muda. Dia kerap memadukan corak batik dengan kulit sintetis.

Untuk bahan, Agnes relatif tak kesulitan mendapatkannya. Di sejumlah pasar kain di Bandung, ia bisa mendapatkan kain batik yang dibutuhkan.

"Di Bandung, kain batik relatif lengkap, ada Pekalongan, Cirebon, Solo, Yogyakarta. Malah, sampai kain tenun ikat pun ada," katanya.

Namun, setiap kali dia berkesempatan pergi ke luar kota, Agnes bakal menyempatkan diri berburu kain batik setempat.

Dukungan Teknologi
Kesuksesan Kulkith dengan Agnes sebagai motor utamanya barangkali tidak akan tercapai bila tak ada situs jejaring sosial Facebook (FB). Saat semua orang berlomba-lomba memanfaatkan FB untuk bersosialisasi di dunia maya, dia tak mau ketinggalan. Dia menjadikan FB sebagai media pemasaran online.

"Pembeli memesan dulu, setelah membayar, baru sepatu dibuat," kata Agnes. Cara lain yang dia tempuh adalah dengan mensponsori blogger yang dikenal luas di dunia maya sebagai fashion blogger. Nah, karena blogger itu mengapresiasi produknya dan memberi ulasan positif, jadilah penjualan sepatunya meroket.

Pembelinya tak hanya di dalam negeri. Jangkauan Kulkith sudah melebar hingga Malaysia dan Belanda. Tahun 2009 Agnes mengirim 5 lusin sepatu ke Belanda. Omzet usahanya sekitar Rp 50 juta per bulan.

Sukses dengan toko online-nya, Agnes lalu merintis offline store di Bandung serta merekrut saudara dan teman-teman untuk membesarkan usahanya. Dia juga berencana membuka toko di Bali. Setelah lulus, Agnes semakin mantap membesarkan usahanya itu.

(Dwi AS Setianingsih/Kompas Kampus)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau