Jaksa Agung Sebaiknya dari Luar Institusi

Kompas.com - 15/09/2010, 14:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saifuddin berpendapat, calon jaksa agung yang akan menggantikan Hendarman Supandji sebaiknya berasal dari luar institusi Kejaksaan Agung.

Pertimbangannya, sosok dari kalangan eksternal kejaksaan dinilai tidak akan terjebak dengan konflik internal institusi.

"Kalau dari luar, orang itu tidak akan terkontaminasi dengan hiruk-pikuk di internal. Tidak ada beban institusi," ujar Lukman yang juga menjabat Wakil Ketua MPR, Rabu (15/9/2010) di Gedung DPR, Jakarta.

Kemungkinan calon luar tidak akan mendapatkan dukungan dari internal kejaksaan, menurutnya, bisa disiasati dengan mencari wakil jaksa agung dari internal institusi. "Calon dari luar juga tidak ada target pribadi," ujarnya.

Lukman menekankan, jaksa agung baru harus tidak memiliki pretensi lain kecuali penegakan hukum. Selain itu, calon juga harus dipastikan memiliki rekam jejak yang baik. Menjelang pergantian jaksa agung, sejumlah nama memang mengemuka.

Di antaranya adalah dua calon pemimpin KPK yang akan segera diuji, Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas. Calon terpilih akan menggantikan Hendarman Supandji.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau