KEN Usul RI Miliki Neraca Keuangan

Kompas.com - 16/09/2010, 22:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komite Ekonomi Nasional Chairul Tandjung, usai mengikuti sidang kabinet paripurna di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (16/9/2010) mengusulkan Indonesia sebaiknya memiliki neraca keuangan sehingga semua aset negara termonitor secara detail.

Usulan ini merupakan satu dari delapan isi rekomendasi yang akan disampaikan secara komprehensif kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Desember mendatang. Usulan ini, kata Chairul, merupakan bagian dari reformasi keuangan negara. Keberadaan neraca negara dipandang dapat membuat keuangan negara dapat dilakukan secara akuntabel.

"Selama ini Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hanya terdiri dari uang masuk dan uang keluar, sementara asset dan liabilities tidak tercantum. KEN menyarankan agar semua aset negara diikutsertakan sehingga dapat termonitor secara detail. Aset negara, misalnya, seluruh tanah dan bangunan, sumber daya alam, aset BUMN, dan lainnya. Begitu juga dengan semua kewajiban dan utang-piutang," katanya kepada para wartawan.

Sementara itu, Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN), Prof Dr Ir Zuhal, yang juga turut serta dalam sidang kabinet paripurna, mengatakan, KIN mengusulkan beberapa masukan, seperti pangan berbasis bioteknologi, produksi vaksin yang dapat menjadi unggulan dunia, teknologi keamanan perbatasan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, serta sentra UKM berbasis teknologi kreatif.

Pada rapat tersebut, Presiden meminta agar KEN dan KIN dapat benar-benar menghasilkan produk yang dapat dilaksanakan, tak sekadar naskah akademis. Presiden mengatakan, KEN dan KIN harus meninggalkan dikotomi pembangunan ekonomi berbasiskan teknologi dan ekonomi seolah keduanya tak berkaitan.

"Ekonomi saja tak mungkin bisa dijalankan tanpa teknologi. Dalam model pembangunan dan percepatan ekonomi, telah berkembang apa yang disebut knowledge-based economy. Jadi, KIN mendukung KEN dengan memperkuat basis teknologi," katanya.

Tanpa teknologi, tambah Presiden, pemerintah memiliki keterbatasan dalam menggenjot pertumbuhan perekonomian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau