Lima Warga Perancis Diculik di Nigeria

Kompas.com - 17/09/2010, 04:11 WIB

NIAMEY, KOMPAS.com - Tujuh orang asing, termasuk lima warga Prancis, telah diculik di sebuah kawasan tambang uranium di bagian utara Niger, Kamis (16/9/2010).

Penculikan itu, yang mencakup seorang pegawai perusahaan nuklir Areva dan isterinya, mungkin akan menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan para pekerja tambang di daerah tempat gerilyawan terkait kelompok Al Qaida Afrika Utara beroperasi.

Kelima orang yang lain bekerja pada Vinci, yang cabangnya Sogea-Satom sebagai kontraktor di wilayah itu.

Serangan itu terjadi di kota Arlit, yang pertama dalam gelombang penculikan terjadi di kawasan tambang itu ketimbang di padang pasir terpencil seperti penyanderaan sebelumnya setahun terakhir.

"Tidak ada tuntutan untuk sekarang ini, kita akan melihat apa yang akan tiba. Di sanalah kita sekarang."

Areva dan Cinci mengkonfirmasi penculikan semalam di Arlit, kota yang digunakan sebagai markas bagi perusahaan-perusahaan tambang di bagian utara Niger.

"Kedua kelompok itu telah memobilisasi penuh dan bekerja secara dekat dengan pemerintah Nigeria dan Perancis untuk membebaskan ketujuh sandera tersebut," kata mereka.

Tidak ada perincian lagi diberikan mengenai kewarganegaraan staf Sogea-Satom, tapi media Perancis melaporkan bahwa mereka dari Prancis, Togo dan Madagaskar.

Satu sumber keamanan Nigeria mengatakan tentara dari markas militer Madawela yang berdekatan telah memeriksa tempat itu itu untuk mencari orang-orang asing yang hilang.

Baik pemerintah maupun perusahaan tambang Prancis tidak memberikan perincian mengenai bagaimana kelompok itu ditangkap atau siapa yang bertanggungjawab, tapi seorang pengusaha setempat memberitahukan serangan itu terjadi di tengah kota.

"Mereka pergi ke rumah mereka (sandera) dan mengambil mereka. Mereka tahu secara tepat dimana mereka, ini sangat mengkhawatirkan," katanya.

Gerilyawan Tuareg bagaimanapun sebelumnya aktif di tempat itu, tapi serangan telah terhenti sejak pertempuran mereda tahun lalu.

Bagaimanapun, penculikan atas orang asing telah menjadi lebih sering di wilayah Sahara-Sahel di Afrika Barat pada setahun terakhir, dengan sandera biasanya berakhir di tangan kelompok terkait Al Qaida Afrika Utara.

Sebagian besar sandera dibebaskan setelah tuntutan, termasuk pembebasan tawanan gerilyawan, dipenuhi.

Meskipun tidak pernah dikonfirmasi secara resmi, sumber-sumber keamanan mengatakan jutaan dolar uang tebusan juga telah dibayarkan untuk membebaskan sandera.

Perancis mengatakan mereka dalam keadaan perang dengan kelompok itu dan menjanjikan bantuan militer lagi pada negara-negara di kawasan itu setelah gerilyawan mengatakan Juli lalu mereka telah mengeksekusi seorang warga Prancis yang mereka tahan setelah serangan Prancis-Mauritania untuk membebaskannya gagal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau