Pelajaran Antikorupsi untuk Pejabat Saja

Kompas.com - 19/09/2010, 13:56 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara, Yos Rizal, berpendapat, pendidikan antikorupsi lebih tepat diberikan kepada pegawai, pejabat, dan kepala pemerintahan ketimbang untuk pelajar dan mahasiswa.       "Itu akan lebih efektif dan bermanfaat karena merekalah yang lebih berpeluang melakukan praktik korupsi. Tetapi, bukan berarti pendidikan antikorupsi tidak bisa diberikan kepada pelajar dan mahasiswa karena selama ini juga sudah ada pelajaran agama dan pendidikan moral," katanya di Medan, Minggu (19/9/2010).       Pendapat itu dikemukakan menanggapi rencana Kementerian Pendidikan Nasional dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memasukkan kurikulum pendidikan antikorupsi mulai dari tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi.       Ia mengatakan, sebelum pendidikan antikorupsi benar-benar diterapkan, terlebih dulu harus dicermati bagaimana lebih menguatkan aspek-aspek yang terdapat dalam kurikulum pendidikan selama ini.       "Kurikulum pendidikan kita saat ini memiliki lima aspek yang melengkapinya. Yang pertama, akhlak dan moral; kemudian kepribadian, iptek, dan estetika seni; serta yang terakhir olahraga dan kesehatan. Jadi, pendidikan antikorupsi itu mau dimasukkan ke aspek yang mana," katanya.       Menurut dia, rencana adanya pendidikan antikorupsi yang akan diterapkan pada setiap jenjang pendidikan sebaiknya dikaji lebih mendalam lagi dengan melibatkan beberapa ahli.       Selama ini, lanjutnya, korupsi terjadi bukan hanya karena buruknya akhlak dan kepribadian seseorang. Bahkan banyak pelaku korupsi yang tenyata seorang dermawan dan dikenal memiliki hubungan sosial baik dengan orang banyak.       "Berarti korupsi tak hanya melulu masalah akhlak, moral, dan kepribadian, bisa saja disebabkan oleh faktor kemiskinan ataupun pengaruh lingkungan. Jadi, pemerintah sebenarnya mau menajamkan satu aspek yang mana dalam kurikulum pendidikan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau