Sindikat trafficking dibongkar

Ya Ampun, Perawan Ini Dijual Rp 2,5 Juta

Kompas.com - 20/09/2010, 08:57 WIB

KOMPAS.com — Sindikat praktik perdagangan anak di bawah umur (trafficking) untuk melayani pria hidung belang dibongkar petugas unit Pidum Polrestabes Surabaya. Dua makelar cewek-cewek belia itu ditangkap saat mengantar anak buahnya di sebuah hotel di kawasan Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya.

“Kedua tersangka ini juga menyediakan perempuan yang katanya masih perawan, jumlahnya belasan orang,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Anom Wibowo, Minggu (19/9/2010).

Kedua perempuan yang kini masih menjalani pemeriksaan di Polrestabes Surabaya adalah Serly Wulan Megalina (21) asal Magersari, Mojokerto, Jawa Timur, dan Kristin alias Puput (21) yang tinggal di Jalan Putat Jaya, Surabaya. Pemeriksaan secara intensif ini dilakukan lantaran petugas meyakini kedua perempuan dengan rambut disemir pirang itu masih memiliki jaringan lain dengan stok belasan anak perawan.

“Kami masih kembangkan pemeriksaan karena dimungkinkan jaringan kedua tersangka ini masih ada di luar,” ujar Anom.

Pengakuan Serly sendiri, ia mulai menjalankan bisnis ini sekitar enam bulan lalu. “Baru tertangkap sekarang,” kata perempuan yang memiliki tato kupu di betis kanannya.

Bersama Puput, Serly mencari wanita belia dengan nongkrong di mal, kafe, dan diskotek. Kepada para cewek yang dianggap bisa dijualbelikan, Serly dan Puput merayu mereka dengan iming-iming bisa mendapatkan uang banyak dengan cara mudah. Agar bisnis esek-esek terselubung itu berjalan mulus, Puput maupun Serly biasanya berbagi tugas. “Saya yang mencari perempuan, Puput yang mencari pelanggan,” jelas Serly.

Setelah mendapat wanita, Serly bersama perempuan yang dibawa dan siap melayani pria hidung belang tersebut nongkrong di mal yang berada di pusat kota Surabaya, menunggu Puput yang datang dengan pria hidung belang.

Setelah melihat dari dekat perempuan yang akan melayani berikut keterangan status yang disandang, para pelanggan biasanya langsung membicarakan tarif kencan. Bila ada kesepakatan harga, Serly dan Puput akan mengantarkan perempuan penghibur tersebut ke hotel atau penginapan yang telah ditunjuk si pemesan.

Kedua wanita itu cukup lincah dalam menjaring dan melayani pelanggan. Mereka punya banyak cara untuk memuaskan tamu. Salah satunya, baik Serly maupun Puput sudah siap dengan telepon seluler yang memuat foto perempuan yang akan diperdagangkan dalam beberapa pose. “Mereka juga siap dengan foto-foto yang tersimpan di telepon seluler plus tarifnya,” kata Anom.

Bila pria yang ditawari tertarik, mereka tinggal menghubungi perempuan yang siap di-booking. Selanjutnya, Serly atau Puput akan mengantarkan ke tempat pelanggan.

Tarif yang dipatok sindikat Serly dan Puput tergolong tarif menengah ke atas untuk ukuran bisnis esek-esek di Surabaya. Rata-rata sekali booking, tarifnya berkisar Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Jika anak buahnya masih perawan, mereka mematok tarif lebih tinggi, yakni Rp 2,5 juta.

Dari tarif tersebut, Serly maupun Puput mendapat bagian 35 persen, sedangkan sisanya diberikan kepada perempuan yang diperdagangkan. “Kalau Rp 1 juta, saya dapat Rp 350.000,” kata Serly.

Untuk mencari perempuan yang bisa diperdagangkan, sindikat ini tidak asal comot. Ada beberapa kriteria yang disyaratkan, misalnya usia SMA atau berusia sekitar 17 tahun. Karena itu, petugas menjerat kedua tersangka dengan tindak pidana perdagangan anak di bawah umur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 jo 17 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan atau Pasal 88 UU RI Nomor 23 Tahun 2003 tentang perdagangan anak.

Terungkapnya sindikat perdagangan anak itu setelah petugas mendapat informasi kerap ada pertemuan antara tersangka dan sejumlah pria yang akan menggunakan jasa seks yang ditawarkan tersangka di kafe atau mal.

Dari penyelidikan, ada empat pria dari Batam yang memesan empat wanita sekaligus yang sudah ditunggu di sebuah hotel di kawasan Jalan Mayjen Sungkono. Petugas yang sudah disebar ke beberapa lokasi akhirnya membuntuti sebuah taksi yang membawa enam wanita hendak menuju sebuah hotel.

Kemudian polisi menjumpai kedua tersangka dengan tiga wanita berada di dalam taksi. Mereka sedang menunggu temannya yang bertarif Rp 2,5 juta melayani tamu di dalam kamar. Dari tangan kedua tersangka, petugas mengamankan dua tagihan hotel bertarif Rp 225.000, dua kondom, uang tunai Rp 4 juta, serta tiga telepon seluler. iit

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau