Mentan Izinkan Impor Beras

Kompas.com - 21/09/2010, 02:55 WIB

Jakarta, Kompas - Menteri Pertanian Suswono memberi sinyal bakal memberikan rekomendasi impor beras untuk memperkuat stok nasional. Impor bukanlah bentuk kegagalan Kementerian Pertanian, tetapi sebagai bentuk kewaspadaan mengingat pangan soal penting.

Hal itu diungkapkan Suswono, di Jakarta, Senin (20/9). ”Saya tidak menganggap impor beras sebagai bentuk kegagalan. Bagaimanapun pangan merupakan masalah sangat penting dan warga Indonesia sudah telanjur bergantung pada beras,” katanya.

Oleh karena itu harus ada jaminan ketersediaan beras bagi masyarakat. Tahun 2010, kata Suswono, produksi beras bagus. Angka ramalan II Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi padi sebanyak 65,15 juta ton gabah kering giling dan surplus produksi beras sampai akhir tahun sebanyak 5,6 juta ton.

Produksi beras bagus karena sepanjang tahun 2010 terjadi hujan. Karena itu, petani lebih memilih menanam padi daripada menanam jenis tanaman palawija.

”Hujan tahun ini terus ada karena fenomena iklim La Nina, bukan tidak mungkin tahun 2011 gantian El Nino (kemarau berkepanjangan),” katanya.

Mentan menyatakan, baru-baru ini pihaknya mendapat surat dari badan dunia PBB yang mengurusi pangan dan pertanian (FAO) terkait persoalan pangan yang akan menjadi ancaman. Untuk itu, Indonesia perlu memperkuat stok pangan nasional karena China pun akan mengimpor 1 juta ton beras.

Diperkirakan negara-negara lain akan banyak melakukan hal serupa dan dampaknya stok beras di pasar dunia bisa menipis. ”Mumpung masih ada beras di pasar, Indonesia juga bisa mengimpor beras dari Thailand. Apalagi Indonesia masih memiliki kerja sama dengan Thailand untuk kapan saja mendatangkan beras bila sewaktu-waktu membutuhkan,” katanya.

Menurut Mentan, kalau saja stok beras nasional di Perum Bulog besar, impor tidak diperlukan. Kenyataannya, stok hanya ada 1,4 juta ton dan tahun depan iklim belum bisa diprediksi.

Peluang Perum Bulog untuk membeli beras sebanyak-banyaknya hanya ada pada bulan Maret-April 2010 saat panen raya karena harga beras banyak yang berada di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Namun, itu tidak dilakukan karena alasan kualitas.

Kondisi sekarang sulit bagi Bulog untuk membeli beras karena harga beras di pasar rata-rata di atas HPP.

Kalaupun bisa, harus ada kebijakan baru yang memungkinkan Bulog bisa membeli beras di luar HPP atau pemerintah menentukan HPP ganda, berbasis kualitas.

”Namun, membuat kebijakan baru juga perlu waktu, sedangkan kebutuhan mendesak. Karena itu, impor beras tidak menjadi masalah sepanjang untuk memperkuat stok nasional,” katanya.

Ubah pola tanam

Terkait produksi, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot Irianto mengatakan, tahun ini penanaman padi berlangsung sepanjang tahun. Ini karena hujan terus terjadi sehingga ketersediaan air memadai. Lahan-lahan kering yang semula ditanami palawija sekarang ditanami padi.

”Produksi padi bagus karena luas tanam meningkat, tetapi produksi palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau bermasalah karena terjadi trade off lahan,” ujar Gatot.

Karena padi ditanam sepanjang tahun, serangan organisme pengganggu tanaman, seperti hama wereng, kresek, dan tikus, terjadi. Itu karena pakan bagi organisme pengganggu tanaman terus tersedia, dan tidak ada pemutusan siklus hama-penyakit.

Khusus daerah endemi wereng batang coklat, Gatot menyarankan kepada petani agar melakukan perubahan pola tanam. Misalnya, dengan mengganti varietas padi dengan Inpari 13 yang lebih tahan serangan wereng, atau mengganti komoditas. Ini dilakukan untuk memutus siklus hama.

Daerah endemi wereng meliputi wilayah Klaten dan sebagian Boyolali (Jawa Tengah), Subang dan sebagian Karawang (Jawa Barat), serta Banyuwangi dan Jember (Jawa Timur). (MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau