Cuaca Ganggu Pertanian

Kompas.com - 22/09/2010, 04:03 WIB

Semarang, Kompas - Anomali cuaca dituding sebagai penyebab turunnya produksi pertanian. Di Jawa Tengah, misalnya, sejak Januari hingga 31 Agustus 2010, total kerusakan lahan tanaman pangan dan hortikultura akibat banjir mencapai 43.020 hektar, seluas 12.447 hektar puso.

Rinciannya, lahan tanaman padi yang terkena banjir mencapai 25.194 hektar, 6.182 hektar di antaranya puso. Kerusakan tanaman jagung mencapai 1.198 hektar, 203 hektar puso. Tanaman kedelai yang rusak 2.353 hektar dan 1.064 hektar puso.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah Aris Budiono, Selasa (21/9) di Semarang.

Menurut Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Banyumas Ery Prahasto, Selasa di Banyumas, majunya musim hujan dari bulan Oktober ke September menyebabkan produktivitas pertanian, baik padi maupun palawija, terancam anjlok. Bulan September di Kebumen lebih dari 4.500 hektar palawija puso, di Banyumas 510 hektar palawija puso, dan di Cilacap 1.756 hektar sawah terendam banjir sehingga terancam puso.

Pengamatan di lapangan, tak sedikit tanaman jagung di Banyumas gagal tanam karena daunnya menguning akibat diguyur hujan. Seperti di Desa Karangcegak, Kecamatan Sumbang. Sebagian besar daun jagung menguning pada usia 35 hari. Akibatnya, jagung tak bisa berbuah.

Di Kecamatan Polanharjo, Cawas, Delanggu, dan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, sekitar 1.000 hektar sawah tak ditanami petani hampir delapan bulan.

Petani menunggu bantuan benih yang tidak kunjung cair. Mereka trauma, setelah dua kali musim tanam, padi mereka diserang wereng. Serangan terjadi saat padi siap panen awal 2010. Akibatnya, petani rugi Rp 2,5 juta-Rp 3,5 juta per hektar. Setelah menanam kembali, padi mereka hancur dengan kerugian Rp 1,5 juta per hektar.

”Kami tidak berani menanam padi dengan modal sendiri. Petani sangat berharap bantuan benih dari pemerintah. Untuk menanam padi, setidaknya perlu Rp 600.000 per patok (3.000 meter persegi),” kata Djimanto, petani di Polanharjo.

Hujan berkepanjangan juga berdampak buruk pada panen jagung di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Menurut Ketua Kelompok Tani Kalongko di Desa Bontosunggu, Daeng Nai (45), hujan merusak tanaman jagung.

Jagung juga sulit dikeringkan sehingga kualitasnya rendah dan harganya jatuh. Jagung yang lama kering berubah menjadi kehitaman. Harganya anjlok menjadi Rp 1.800 per kilogram dari biasanya Rp 2.050 per kilogram.

Penjemuran tak sempurna juga menyebabkan harga rumput laut anjlok dari Rp 9.000 jadi Rp 6.000 per kilogram dalam sebulan terakhir di Takalar, Sulsel.

Dari Bojonegoro, Jawa Timur, dilaporkan, petani di Balen, Sumberrejo, harus menanam kedelai dua kali karena tanaman pertama mati akibat terlalu banyak air.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Bojonegoro Syarif Usman menyatakan, saat ini petani mengalami kerugian bertubi-tubi sehingga banyak yang membiarkan lahan tidak ditanami.

Syarif mengusulkan, pemerintah mengambil tindakan cepat untuk menghadapi cuaca tidak menentu, misalnya, konsep baru pola tanam dan bantuan sarana produksi. Hal senada dilontarkan Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Cabang Gresik Asikin Hariyanto.

Anomali cuaca juga mengakibatkan turunnya rendemen tebu pada musim giling 2010.

Sekretaris Paguyuban Petani Tebu Sari Once Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Heri DK mengatakan, pada musim giling tahun ini sejumlah pabrik gula menetapkan rendemen tebu petani kurang dari 6 persen. Padahal, pada musim giling tahun sebelumnya, rendemen tebu 8-9 persen. Akibatnya, petani tidak mampu menutup biaya produksi.

Target tak terpenuhi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi padi tahun 2010 adalah 65,15 juta ton gabah kering giling (GKG), produksi jagung 2010 hanya 18,02 juta ton, kedelai 927.384 ton, kacang tanah 756.315 ton, dan kacang hijau 296.133 ton. Dibandingkan tahun 2009, produksi kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau turun. Produksi jagung dan padi ada kenaikan, tetapi jauh dari target.

Untuk tahun 2010, Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi 67 juta ton GKG, jagung 20 juta ton, dan kedelai 1,3 juta ton.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot Irianto menyatakan, perubahan iklim ekstrem tidak selalu merugikan. Karena tahun 2010 mengarah pada iklim basah, penanaman padi bisa dilakukan sepanjang tahun.

Karena itu, luas area tanam padi 2010 naik menjadi 13,08 juta hektar. Namun, luas panen turun dari 12,88 juta hektar tahun 2009 jadi 12,87 juta hektar pada 2010.

Hal itu, menurut Gatot, mengakibatkan tanaman palawija, seperti jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau, tak kebagian lahan.

Menteri Pertanian Suswono menyatakan, konversi lahan pertanian dan perubahan iklim menjadi ancaman utama produksi pertanian. Karena itu, harus ada tambahan lahan pertanian.

Suswono menyatakan, fokus Kementerian Pertanian ke depan adalah melakukan perluasan lahan produksi pertanian. Belum lama ini pihaknya menyampaikan keinginan kepada PT Perhutani untuk berbagi pengelolaan lahan dengan masyarakat guna mendukung produksi tanaman pangan nasional.

(APA/AHA/NIK/SIR/ACI/WHO/DEN/MDN/MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau