SEMARANG, KOMPAS - Ancaman bencana banjir dan longsor di Jawa Tengah meningkat menyusul terjadinya anomali cuaca yang memicu tingginya curah hujan. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai ancaman tersebut agar tidak sampai ada korban jiwa.
"Dalam kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang ini, ancaman banjir dan longsor memang meningkat," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah Gembong Purwanto Nugroho, Selasa (21/9).
Sebulan terakhir saja misalnya, terjadi bencana banjir di Cilacap dan Wonosobo serta longsor di daerah Banjarnegara dan Banyumas. Bencana ini dikhawatirkan makin sering terjadi terutama di daerah rawan banjir dan longsor menjelang datangnya musim hujan pada Oktober mendatang.
Dari 35 kabupaten/kota di Jateng, terdapat 33 daerah yang rawan banjir dan 27 daerah rawan longsor. Daerah yang saat ini terbebas dari banjir hanya Kota Salatiga dan Kota Magelang. Sedangkan untuk daerah yang tidak termasuk rawan longsor biasanya merupakan daerah landai, seperti Demak, Kota Solo, dan Kota Pekalongan.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jateng Teguh Dwi Paryono mengungkapkan, daerah rawan longsor yang terdapat di 27 kabupaten/kota di Jateng juga meluas dibandingkan tahun 2002. Daerah rawan longsor yang sebelumnya tersebar di 538 desa dan 117 kecamatan meluas menjadi 2.024 desa dan 247 kecamatan.
Kondisi ini dipicu maraknya alih fungsi lahan tangkapan air yang dijadikan permukiman dan pertanian, sehingga akhirnya memengaruhi struktur tanah dan susunan batuan. "Longsor itu kemudian terjadi karena hujan yang terus-menerus," kata Teguh.
Untuk itu, Teguh mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaannya, seperti membuat saluran air tertutup, menutup retakan tanah, dan bersedia direlokasi.
Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika Jateng Evi Luthfiati mengatakan, anomali cuaca yang terjadi sejak Juni lalu disebabkan fenomena La Nina atau meningkatnya suhu permukaan air laut di perairan Indonesia. Kondisi cuaca ekstrem ini masih akan terus terjadi hingga Januari 2011.
Akibatnya, curah hujan tinggi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai gambaran, pada musim hujan yang dimulai Oktober mendatang, diperkirakan curah hujan di Kota Semarang dan sekitarnya mencapai 250 milimeter per bulan. "Sedangkan pada tahun sebelumnya hanya 150-200 milimeter per bulan," kata Evi.
Adapun curah hujan pada masa pancaroba saat ini juga sudah cukup tinggi mencapai 20 milimeter per jam. Evi mengimbau, kepada masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi bencana banjir, longsor, dan angin puting beliung. (Ilo)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang