Olimpiade astronomi dan astrofisika

Indonesia Raih 3 Perak dan 2 Perunggu

Kompas.com - 22/09/2010, 22:14 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - Tim Indonesia berhasil memperoleh tiga medali perak dan dua perunggu di ajang Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika ke-4 (4th International Olympiad on Astronomy and Astrophysics/IOAA) tingkat pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang digelar di Beijing, Republik Rakyat China, 12-21 September 2010. Tim nasional Indonesia bersaing dengan 24 tim lainnya dari 22 negara untuk uji teori, pengamatan, praktik pengolahan data, dan kompetisi tim.

Perolehan medali perak tim Indonesia tersebut di antaranya diraih oleh Raymond Djajalaksana dari SMA IPEKA Sunter, Jakarta, Anas Maulidi Utama, SMA Negeri 5 Surabaya, Jawa Timur, serta Hans Triar Sutanto, SMAK 2 Petra Surabaya, Jawa Timur. Sementara itu, medali perunggu diraih oleh Ahmad Raditya Cahya dari SMA Negri 1 Yogyakarta dan Widya Ageng Setyo Tetuko, SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah.

Kepala seksi Bakat dan Prestasi Siswa SMA Kemendiknas RI Suharlan kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (22/9/2010), mengungkapkan, dalam IOAA kali ini, tim Indonesia berada pada ranking ke-13 dari total 24 tim dari 22 negara. Sedangkan juara umum diraih oleh India dengan perolehan tiga emas dan dua perunggu. Salah seorang siswa dari India memperoleh Best Theory, sedangkan Best Practical dan Absolute Winner diraih oleh siswa dari Polandia.

Dr Suryadi Siregar, pimpinan tim Indonesia, menambahkan, bahwa penilaian untuk kategori team competition diambil dari kecepatan tim dalam merakit sebuah teleskop. "Tapi tidak hanya cepat, tapi teleskop juga harus terpasang dengan baik dan seimbang kedudukannya," ujar Suryadi.

Suryadi mengatakan, untuk kategori team competition dimenangkan oleh tim Thailand, sementara tim Indonesia meraih posisi kedua, dan Iran posisi ketiga. Menurutnya, perolehan nilai antar-peserta bersaing amat ketat.

"Di sini diperlukan tugas seorang team leader, karena selain ikut menganalisa soal-soal yang akan diujikan, posisinya juga harus bisa menerjemahkan soal ke dalam bahasa Indonesia, memeriksa hasil pekerjaan siswa Indonesia dan yang juga tidak kalah penting berdebat dengan juri memperjuangkan penilaian yang fair bagi siswa Indonesia," tambahnya.

Adapun evaluasi umum dari hasil tim Indonesia pada ajang IOAA ke-4 ini dikatakan lebih baik dari IOAA ke-3 di Iran. Para siswa telah dibekali oleh tim pelatih dari Program Studi Astronomi, FMIPA, ITB selama sekitar 4 bulan. Beberapa kekurangan seperti aspek psikologis siswa ketika mengukti tes, ketelitian dan beberapa materi yang perlu diperdalam akan menjadi bahan evaluasi tim pelatih, agar di tahun-tahun berikutnya tim Indonesia dapat meraih hasil yang lebih baik.

"Memang tim India mempersiapkan siswanya dengan baik pada kategori Kompetisi Teori yang diakui oleh team leader India, tapi pada Kompetisi Analisa Data dan Observasi tim Indonesia dan India setara," lanjut Suryadi.

Di ajang ini, para peserta selain berkompetisi juga mengikuti kegiatan ceramah ilmiah dari Prof Richard de Grijs dari Peking University dan seorang profesor dari National Astronomy Observatory of China (NAOC) yang menjelaskan tentang proyek-proyek besar astronomi yang didanai oleh negara China. Para peserta juga dihibur dengan mengikuti tur ke Great Wall dan Forbidden City.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau