Parade militer iran

Bom Meledak Tewaskan 12 Perempuan

Kompas.com - 23/09/2010, 01:09 WIB

TEHERAN, KOMPAS.com — Bom menghantam parade militer Iran, Rabu (22/9/2010) sekitar pukul 10.20 waktu setempat (pukul 13.50 WIB).

Peristiwa yang menewaskan 12 perempuan itu terjadi ketika militer Iran sedang memamerkan persenjataannya pada peringatan meletusnya perang Iran-Irak 30 tahun lalu. Perang Irak-Iran selama 1980-1988 menewaskan sekitar satu juta orang di kedua pihak.

Korban tewas termasuk para istri dari dua panglima, sementara petugas medis mengatakan bahwa 81 orang cedera dan jumlah korban tewas dikhawatirkan naik.

Bom tersebut dipasang hanya 50 meter dari podium pada parade di kota barat laut yang berpenduduk etnik Kurdi, Mahabad, di Provinsi Ajarbaijan Barat.

"Jumlah syuhada dalam insiden itu mencapai 12 orang," kata kepala pelayanan darurat medis Iran, Gholam Reza Massoumi, kepada kantor berita ISNA.

"Sejauh ini belum ada kelompok atau orang yang mengklaim bertanggung jawab atas kejahatan ini," kata deputi gubernur provinsi, Issa Ghanbari, kepada ISNA.

Menurut dia, semua korban tewas adalah perempuan, kecuali seorang anak laki-laki yang berusia enam tahun.

"Anda belum bisa memastikan angka korban tewas atau cedera karena itu bencana yang mengerikan dan setiap menit jumlah baru muncul," kata kepala pelayanan medis darurat daerah, Hamid Reza Emrani, kepada ISNA.

Iran barat, yang memiliki penduduk Kurdi dalam jumlah besar, dilanda bentrokan-bentrokan mematikan antara pasukan Iran dan kelompok-kelompok gerilya Kurdi, khususnya Partai Hidup Bebas Kurdistan (PJAK) yang beroperasi dari sejumlah pangkalan di negara tetangga, Irak.

Gubernur Provinsi Vahid Jalalzadeh menyalahkan Amerika Serikat dan kekuatan kontrarevolusi atas serangan tersebut.

Pada parade itu, rudal-rudal jarak jauh Sejil, Shahab-3 dan Ghadr-1, merupakan bintang perhatian dalam parade utama di Teheran yang disaksikan kepala staf militer Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi.

Dengan jangkauan 1.800 hingga 2.000 kilometer, rudal-rudal itu secara teoritis mampu mencapai negara musuh sengit Iran, Israel.

Selain itu, juga ditampilkan lima pesawat pengebom tak berawak Iran, Karar (penyerang), yang diungkapkan keberadaannya pada Agustus dan memiliki daya jangkau 1.000 kilometer.

AS dan Israel menuduh Iran mengupayakan senjata nuklir dan tidak pernah mengesampingkan serangan militer untuk mencegah Teheran memperoleh senjata tersebut. Iran membantah memiliki ambisi semacam itu.

Iran menjadi sorotan dunia karena program nuklirnya yang kontroversial. Negara itu sudah dikenai tiga paket sanksi PBB karena penolakannya menghentikan pengayaan uranium, salah satu dari sejumlah langkah penting untuk membuat energi nuklir bagi kepentingan-kepentingan sipil ataupun militer.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau