Pertanian

Jeritan Petani Bawang Merah yang Gagal Panen

Kompas.com - 23/09/2010, 11:34 WIB

Sugiyo (44), petani bawang merah asal Desa Pagejugan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, tak pernah menyangka akan mengalami kerugian hingga lebih dari Rp 700 juta, pada tahun ini. Sebagai petani yang sudah berpengalaman menanam bawang merah, ia hampir selalu meraih keuntungan dari budidaya tanaman tersebut.

Namun, dengan pengalaman tersebut ternyata dia tak mampu melawan perubahan cuaca ekstrem yang terjadi tahun ini. Hujan yang terus-menerus, mengakibatkan tanaman bawang merahnya di semua lahan miliknya gagal panen.

Ditemui di gudang bawang merah miliknya di Desa Pagejugan, Senin (20/9), Sugiyo mengaku selain di lahan seluas tiga hektar di desanya, ia juga menanam bawang merah pada lahan sewa di Majalengka, Jawa Barat, yang luasnya sekitar delapan hektar.

Bawang yang ditanam Januari lalu di lahan di Desa Pagejugan sudah panen sekitar bulan Maret. Namun akibat tanaman bawang merah rusak terkena hujan, hasil panen yang diperoleh hanya Rp 35 juta. Jumlah ini jauh dari modal yang dikeluarkannya sekitar Rp 150 juta.

Biasanya produktivitas tanaman bawang merah bisa mencapai 12 ton per hektar, namun saat ini hanya Rp 1,5 ton per hektar.

Gagal panen juga terjadi di lahan bawang merah di Majalengka. Tanaman yang dipanen pada bulan Juni lalu, hanya menghasilkan Rp 75 juta, padahal modal yang dikeluarkan Rp 320 juta.

Bahkan hasil panen awal bulan September lalu, jauh lebih buruk. Modal yang dikeluarkan sekitar Rp 400 juta, tapi hasil panen ha nya Rp 12 juta. "Hasil penjualan panen bawang pun tidak cukup untuk membayar biaya kuli pemanen bawang," katanya.

Padahal, biaya kuli pemanen untuk lahan delapan hektar tersebut sekitar Rp 55 juta. "Semuanya gagal panen akibat hujan terus-menerus," katanya.

Gagal panen membuat dia kesulitan mengembalikan pinjaman ke bank sekitar Rp 220 juta. Dia pun harus membayar bunga pinjaman per tiga bulan yakni sekitar Rp 19,8 juta.

Kegagalan tak hanya dirasakan petani besar seperti Sugiyo. Sejumlah petani kecil di Pagejugan yang menanam bawang merah juga mengalami nasib serupa.

Seperti yang dialami Saiful Hadi (44), yang mengalami gagal panen bawang merah di lahannya seluas setengah hektar. Hasil panen kali ini hanya sekitar satu ton, padahal dalam keadaan normal hasil panen sekitar 5-6 ton.

Beruntung, dia menanam terong di sela-sela tanaman bawang merah, sehingga dia masih dapat menjual hasil panen terong.

90 persen gagal

Ketua Gabungan Kelompok Tani Mekar Tani Desa Pagejugan, Mashadi, mengatakan, dari sekitar 160 hektar lahan tanaman bawang merah di Desa Pagejugan, hampir 90 persen gagal panen akibat perubahan cuaca ekstrem.

Pemerintah seharusnya bertanggung jawab memberikan penjelasan mengenai perubahan iklim kepada petani, agar petani tidak terjebak pada pengalaman dan prediksi mereka sendiri.

Pemerintah juga seharusnya memberikan bantuan kepada petani saat gagal panen, dan perbankan memberikan keringanan kepada petani untuk tidak membayar bunga saat gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Brebes, M Iqbal, mengatakan, anomali cuaca merupakan fenomena alam. Dia menegaskan, pemerintah sudah menjelaskan soal perubahan iklim, namun petani bawang merah cenderung bersifat spekulatif, dan nekat menanam bawang.

Menurut Iqbal, pemerintah tidak bisa memberikan bantuan kepada petani bawang merah, karena tanaman tersebut merupakan tanaman komersial. (Siwi Nurbiajanti)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau