Fakta dan Angka Seputar Ejakulasi Dini

Kompas.com - 23/09/2010, 12:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam budaya pop, obrolan soal berapa lama seorang pria mampu bertahan saat berhubungan intim kerap menjadi bahan lelucon. Saling ejek kerap terjadi tatkala pria dianggap terlalu cepat 'selesai' alias prematur.

Tetapi sebenarnya, topik tentang ejakulasi prematur/dini (ED) menjadi tidak lucu sama-sekali, terutama bila Anda mengalaminya. Hampir sebagian besar pria ternyata seringkali mengalami ejakulasi lebih cepat dari yang diharapkan, baik oleh diri maupun pasangannya  ED pun kerap membuat frustasi karena tak sedikit dari yang bingung mencari penyebabnya.

Yang pasti, menurut Ian Kerner, konselor seks  di harian The New York Times  dan penulis buku She Comes First: the Thinking Man’s Guide to Pleasuring a Woman,  ejakulasi prematur adalah salah satu problem serius yang dialami kaum Adam di era modern ini.  Kerner menyuguhkan beberapa fakta dan angka menarik seputar ED yang perlu Anda ketahui.

- 30 (persen) Sekitar 30 persen pria di dunia diperkirakan mengalami ejakulasi dini.  Faktanya, angka ini bisa jauh lebih tinggi karena ED adalah masalah seksual  paling lumrah yang bisa dialami oleh siapa pun, tanpa mempedulikan usia atau seberapa besar pengalaman dan pengetahuan Anda tentang seks.

- 15  (detik) Walaupun Anda pernah melihat film biru atau mendengar cerita orang, kebanyakan pria sebenarnya tidak mampu berhubungan intim berlama-lama. Rata-rata pria melakukan intercourse hanya selama dua hingga lima menit saja sebelum berejakulasi.

Namun bagi pria pengidap ED, lamanya waktu tersebut adalah impian.  Pengidap ED hanya mampu bertahan kurang dari semenit bahkan sejumlah riset menyatakan pria dengan masalah ED hanya mampu bertempur selama 15 detik saja.

- 2 (jenis neurotransmitter) Selama bertahun-tahun, peneliti meyakini beberapa hal penyebab ED, termasuk faktor psikologis seperti kecemasan dan rasa bersalah, kebiasaan masturbasi, penis yang terlalu sensitif atau minimnya pengalaman seksual. Meski ada nilai kebenaran pada teori tersebut, penyebab utama ED justru berkaitan pada dua jenis zat kimia dalam tubuh yang berfungsi sebagai pengantar (neurotransmitter).

Studi terbaru menyatakan bahwa ED sifatnya seperti cacat atau bawaan sejak lahir.  Para ahli juga masih menyelidiki kaitan antara ED dengan cara kerja sistem saraf manusia.  Perubahan pada dua jenis neurotransmitter diduga ikut bertanggungjawab pada timbulnya ED.

- 12 (kali lebih lama) Perkembangan ilmu kedokteran telah memunculkan harapan baru bagi pengobatan ejakulasi dini. Obat-obat antidepresan yang disebut SSRI (Selective serotonin reuptake inhibitor) dapat membantu kadar neurotransmitter jenis serotonin sehingga dapat menunda atau memperlambat ejakulasi.  Bahkan para ahli tengah mengembangkan sejenis obat dalam bentuk semprot yang dapat menunda terjadinya ejakulasi hingga 12 kali, dari rata-rata 15 detik hingga 3 menit.  Obat semprot ini bernama Topical Eutectic Mixture for Premature Ejaculation (TEMPE)  ini masih dalam penelitian dan segera akan didaftarkan ke FDA.

- 1 (tujuan) Berbagai penemuan para ilmuwan memang dapat membantu pengidap ED, tetapi tidak menyembuhkannya. Belum ada satu jenis pengobatan yang dapat menyembuhkan PE, selain itu pun tidak ada cara instan untuk mengatasinya.  Upaya medis hanyalah upaya membantu meningkatkan kemampuan pasien ED agar dapat bertahan lebih lama dan menambah rasa kepercayaan diri mereka. Dengan kepercayaan diri, mereka dapat lebih fokus pada latihan mengasah skill  membawa pasangan menuju orgasme, yang merupakan satu tujuan utama. Ada banyak teknik yang dapat dikembangkan dan dipelajari untuk memuaskan pasangan. Dengan begitu, seks tidak selalu harus dibantu obat-obatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau