”Jika ingin mencapai target listing bulan Desember 2010, audit laporan keuangan harus selesai paling lambat pertengahan September 2010. Padahal, auditor membutuhkan waktu audit minimal dua bulan,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar, Kamis (23/9) di Cengkareng, Tangerang, Banten.
Penjelasan tentang penundaan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Garuda itu disampaikan dalam jumpa pers khusus yang diselenggarakan Garuda bersama Direktur Utama PT Bahana Securities Eko Yuliantoro (penjamin emisi Garuda) dan Chief Operating Officer Deloitte Indonesia Osman Sitorus.
Meski alasan penundaan IPO salah satunya disebabkan oleh terkait masalah audit laporan keuangan, Emirsyah menegaskan, tak ada masalah dengan laporan keuangan Garuda.
”Kami transparan. Tidak ada poles-polesan (laporan keuangan) bagi anak ataupun cucu perusahaan Garuda. Seluruh anak perusahaan Garuda juga untung,” ujar Emirsyah Satar.
Direktur Utama PT Bahana Securities Eko Yuliantoro menjelaskan, Garuda bukan perusahaan kecil. ”Karyawannya hingga 15.000 orang, dan ini audit tengah tahun, bukan akhir tahun, jadi memerlukan sedikit kerja ekstra,” ujarnya.
Meski IPO, kata Eko, registrasi ke Bapepam tetap akan dilakukan pada bulan November 2010.
Emirsyah menjelaskan, proses IPO Garuda harus memenuhi regulasi pasar modal global karena IPO ini juga ditawarkan kepada investor asing,
Regulasi yang harus dipenuhi adalah poin REG S dan 144A. Regulasi tersebut berisi persyaratan bagi tersedianya laporan keuangan terbaru, maksimum 135 hari, pada saat pencatatan di bursa.
Dengan demikian, laporan keuangan yang harus disiapkan dan teraudit adalah laporan keuangan per 30 September 2010.
Eko berpendapat, dari sisi waktu, penundaan IPO Garuda sangat tepat. ”Jika kami paksakan roadshow pada 15 Desember 2010, yang terjadi di negara itu tidak ada lagi investor. Sebab, sebagian sudah memulai libur akhir tahun (Natal dan tahun baru),” katanya.
Dia menjelaskan, roadshow saham akan dilakukan satu minggu setelah libur akhir tahun berakhir. ”Perkiraan kami, roadshow berlangsung dua minggu. Awalnya, pemaparan untuk publik dalam negeri, lantas ke Asia, seperti Singapura dan Hongkong, lalu ke Amerika dan Eropa,” ujar Eko.
Namun, hingga kini belum ada penjelasan tentang berapa persen saham Garuda yang akan dilepas melalui IPO. Emirsyah pun tak bersedia menjelaskan hal itu.
Rencana yang sudah sering diungkap kepada publik mengisyaratkan, pemerintah akan melepas sekitar 40 persen saham Garuda, dengan target perolehan dana 300 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,7 triliun, dengan asumsi kurs Rp 9.000 per dollar AS.
Emirsyah menegaskan, penundaan IPO tidak akan mengganggu modal kerja. ”Mundurnya IPO juga bukan hitungan tahunan, melainkan hanya beberapa minggu, jadi tidak ada masalah dengan modal kerja kami,” ujarnya.
Pada Juli 2010, saat pameran kedirgantaraan Farnborough Airshow di London, Garuda Indonesia mengumumkan pemesanan enam pesawat Airbus 330-200. Pesawat untuk penerbangan jarak menengah, seperti ke Timur Tengah, itu dijadwalkan tiba di Indonesia pada kuartal IV tahun 2012.
Tahun 2014, seiring transformasi Garuda, maskapai itu juga berencana menerbangkan 116 pesawat.
Sementara tahun ini, Garuda baru menerbangkan 81 pesawat. Selain menerbangkan pesawat jenis Airbus 330-200, mereka juga akan menerbangkan pesawat Boeing 777 dan Boeing 737-800 NG sebagai armada utama Garuda.