Garuda Menunda IPO

Kompas.com - 24/09/2010, 03:38 WIB

Banten, Kompas - Perusahaan penerbangan Garuda Indonesia menunda penawaran umum saham perdananya dari target awal Desember 2010 menjadi Februari 2011. Alasannya, Garuda ingin memberikan kesempatan kepada auditor untuk bekerja dengan baik.

”Jika ingin mencapai target listing bulan Desember 2010, audit laporan keuangan harus selesai paling lambat pertengahan September 2010. Padahal, auditor membutuhkan waktu audit minimal dua bulan,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar, Kamis (23/9) di Cengkareng, Tangerang, Banten.

Penjelasan tentang penundaan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Garuda itu disampaikan dalam jumpa pers khusus yang diselenggarakan Garuda bersama Direktur Utama PT Bahana Securities Eko Yuliantoro (penjamin emisi Garuda) dan Chief Operating Officer Deloitte Indonesia Osman Sitorus.

Meski alasan penundaan IPO salah satunya disebabkan oleh terkait masalah audit laporan keuangan, Emirsyah menegaskan, tak ada masalah dengan laporan keuangan Garuda.

”Kami transparan. Tidak ada poles-polesan (laporan keuangan) bagi anak ataupun cucu perusahaan Garuda. Seluruh anak perusahaan Garuda juga untung,” ujar Emirsyah Satar.

Direktur Utama PT Bahana Securities Eko Yuliantoro menjelaskan, Garuda bukan perusahaan kecil. ”Karyawannya hingga 15.000 orang, dan ini audit tengah tahun, bukan akhir tahun, jadi memerlukan sedikit kerja ekstra,” ujarnya.

Meski IPO, kata Eko, registrasi ke Bapepam tetap akan dilakukan pada bulan November 2010.

Emirsyah menjelaskan, proses IPO Garuda harus memenuhi regulasi pasar modal global karena IPO ini juga ditawarkan kepada investor asing,

Regulasi yang harus dipenuhi adalah poin REG S dan 144A. Regulasi tersebut berisi persyaratan bagi tersedianya laporan keuangan terbaru, maksimum 135 hari, pada saat pencatatan di bursa.

Dengan demikian, laporan keuangan yang harus disiapkan dan teraudit adalah laporan keuangan per 30 September 2010.

Libur akhir tahun

Eko berpendapat, dari sisi waktu, penundaan IPO Garuda sangat tepat. ”Jika kami paksakan roadshow pada 15 Desember 2010, yang terjadi di negara itu tidak ada lagi investor. Sebab, sebagian sudah memulai libur akhir tahun (Natal dan tahun baru),” katanya.

Dia menjelaskan, roadshow saham akan dilakukan satu minggu setelah libur akhir tahun berakhir. ”Perkiraan kami, roadshow berlangsung dua minggu. Awalnya, pemaparan untuk publik dalam negeri, lantas ke Asia, seperti Singapura dan Hongkong, lalu ke Amerika dan Eropa,” ujar Eko.

Namun, hingga kini belum ada penjelasan tentang berapa persen saham Garuda yang akan dilepas melalui IPO. Emirsyah pun tak bersedia menjelaskan hal itu.

Rencana yang sudah sering diungkap kepada publik mengisyaratkan, pemerintah akan melepas sekitar 40 persen saham Garuda, dengan target perolehan dana 300 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,7 triliun, dengan asumsi kurs Rp 9.000 per dollar AS.

Emirsyah menegaskan, penundaan IPO tidak akan mengganggu modal kerja. ”Mundurnya IPO juga bukan hitungan tahunan, melainkan hanya beberapa minggu, jadi tidak ada masalah dengan modal kerja kami,” ujarnya.

Pada Juli 2010, saat pameran kedirgantaraan Farnborough Airshow di London, Garuda Indonesia mengumumkan pemesanan enam pesawat Airbus 330-200. Pesawat untuk penerbangan jarak menengah, seperti ke Timur Tengah, itu dijadwalkan tiba di Indonesia pada kuartal IV tahun 2012.

Tahun 2014, seiring transformasi Garuda, maskapai itu juga berencana menerbangkan 116 pesawat.

Sementara tahun ini, Garuda baru menerbangkan 81 pesawat. Selain menerbangkan pesawat jenis Airbus 330-200, mereka juga akan menerbangkan pesawat Boeing 777 dan Boeing 737-800 NG sebagai armada utama Garuda. (RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau