Kuliner

Menikmati Racikan Kopi Lokal

Kompas.com - 26/09/2010, 04:09 WIB

Yulia Sapthiani dan Lusiana Indriasari

KOMPAS.com - Kedai Kopi Phoenam, yang lahir di tanah Makassar, Sulawesi Selatan, mengolah Kopi Toraja menjadi 20-an jenis minuman. Menu andalan kedai yang salah satunya berada di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, ini adalah kopi susu spesial Phoenam. Minuman ini cocok untuk penikmat kopi yang suka rasa pahit, karena rasa pahitnya kopi ini menempel di lidah untuk beberapa saat setelah kita meminumnya.

Keistimewaan lain minum kopi di tempat ini adalah cara meracik yang masih tradisional. Peraciknya, yaitu Hendra Leo (72), yang akrab dipanggil Pak Afu, adalah salah satu putra Liong Thay Hiong, pendiri kedai. Meski memiliki pegawai yang sudah bisa meracik kopi, sebisa mungkin Afu mengerjakannya sendiri.

Di suatu sore pekan lalu saat kami berkunjung ke Kedai Phoenam, Afu yang masih terlihat segar di usianya tersebut membuat setiap pesanan minuman kopi dan teh. Beberapa sendok kopi bubuk dimasukkan ke dalam saringan berkantong cukup panjang untuk kemudian disiram air panas.

Air kopi yang mengucur dari saringan ditampung dalam gelas ukur dari plastik, lalu dituangkan ke dalam gelas ukur lainnya sambil melakukan gerakan menarik gelas yang terisi air kopi ke atas. Afu mengatakan, perlu empat hingga lima kali menuangkan kopi dari satu gelas ke gelas ukur lainnya hingga mendapatkan warna yang lebih hitam dan aroma wangi. Setelah itu, baru dituangkan ke dalam cangkir yang direndam air panas terlebih dulu.

Untuk kopi susu, susu kental manis ditambahkan pada gelas ukur. Proses menuangkan campuran kopi dan susu ke dalam cangkir dengan gerakan menarik memunculkan busa di permukaannya.

Sebagai variasi, beberapa bahan ditambahkan ke dalam minuman, seperti telur, madu, jahe, dan ginseng. Beberapa di antaranya bisa disajikan dingin.

”Beda orang yang meracik, biasanya rasanya akan beda juga biarpun bahannya sama,” kata Afu, yang sempat duduk menemani kami di sela kesibukannya. Ngobrol dengan pelanggan memang menjadi kebiasaan Afu. Obrolannya bisa macam-macam, mulai dari kondisi yang aktual di negeri ini sampai tentang Makassar, kampung halaman Afu, dan sekitar 70 persen pengunjung kedai ini.

Kopi Nusantara

Untuk memperkenalkan kopi lokal, Bakoel Koffie memakai kopi dari daerah yang lebih beragam, terutama dari pulau penghasil kopi terbaik di Indonesia, yaitu Sumatera, Sulawesi, dan Jawa. Pengemasan menjadi menu-menu yang modern dengan tema yang berbeda, membuat kedai ini diminati penikmat kopi dengan usia yang lebih bervariasi, remaja hingga orang tua.

”Kami berusaha mempromosikan dan melestarikan kekayaan lokal karena kopi Indonesia termasuk salah satu kopi dengan kualitas terbaik di dunia. Itulah yang menjadi kekuatan kami,” kata Syenny Chatrine Widjaja, pemilik Bakoel Koffie.

Selain menu umum seperti espresso, cappuccino, dan latte, Bakoel Koffie punya menu yang hanya ada di tempat mereka, yaitu mochamo, caramello, choco lover, ijo frost, vocado frost, dan pisang frost.

Tiga menu terakhir ini menggabungkan kacang hijau, avokad, dan pisang dengan kopi yang disajikan dingin. Sementara choco lover dinikmati dengan cara unik. Minuman yang disajikan panas ini diaduk lebih dulu dengan cokelat yang menempel pada stik es krim, hingga memunculkan rasa cokelat yang dominan.

Jenis-jenis minuman tersebut terbuat dari campuran biji kopi yang diproduksi sendiri Bakoel Koffie. Ada 3 campuran biji kopi yang mereka punya, yaitu heritage, black mist, dan brown cow.

Heritage adalah racikan kopi Sumatera Utara dan Sumatera Selatan yang menghasilkan rasa dan aroma cokelat. Jenis black mist merupakan campuran kopi Jawa dan Sumatera hingga menghasilkan rasa dan aroma karamel. Sementara brown cow, yang cocok untuk dicampur susu, adalah hasil campuran kopi Sulawesi dan Sumatera yang punya rasa dan aroma dan kacang-kacangan.

Syenny mengatakan, penggunaan bahasa Inggris dalam daftar menu punya tujuan agar kedai tersebut bisa go international. ”Dengan memakai bahasa Indonesia, mungkin tidak akan semua orang asing bisa mengingat namanya. Jadi, kami memilih memakai bahasa Inggris, tetapi tetap menjual produk lokal,” ujar Syenny.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau