Jakarta, Kompas
Hal ini lebih lanjut mengubah tekanan udara dan arus angin di tingkat lokal dan regional. Dalam masa transisi ini muncul dua pola angin, yaitu angin timuran atau pola angin musim kemarau dan baratan atau pola angin pada musim hujan.
Angin puting beliung biasanya terjadi pada sore atau malam hari. Pembentukannya disebabkan oleh suhu udara yang panas dan kelembaban yang tinggi pada pagi hingga siang hari.
Kondisi ini mengakibatkan pertumbuhan cepat awan yang menjulang tinggi. ”Gangguan cuaca ini akan berpeluang terjadi dalam tiga hari ke depan,” ungkap Hary Tirto Jatmiko, Kepala Sub-Bidang Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Senin (27/9) di Jakarta.
Daerah yang akan terpengaruh oleh kondisi pancaroba
Sementara itu, menurut
Sementara itu, perairan di
Puting beliung terbentuk akibat pertemuan massa udara bersuhu panas yang naik dan bersuhu dingin yang turun. Kondisi ini menyebabkan perputaran angin. Pertemuan massa udara itu ditunjang oleh adanya jajaran pegunungan dan perbukitan di Jawa hingga Nusa Tenggara.
Banjir dan longsor
Pada masa peralihan atau pancaroba, menurut Hary, selain puting beliung, perlu diwaspadai pula ancaman lain, yaitu banjir dan tanah longsor.
Menghadapi angin ribut, penduduk yang mendiami bangunan non atau semipermanen perlu waspada akan ancaman terbangnya atap bangunan.
Selain itu, pepohonan tinggi dan besar perlu dirapikan percabangannya serta diperiksa kerapuhan batang dan kekuatan perakarannya.
Apabila terjadi hujan di atas dua jam, dataran rendah