Anomali cuaca

Puting Beliung di Selatan Indonesia

Kompas.com - 28/09/2010, 04:00 WIB

Jakarta, Kompas - Puting beliung merupakan anomali yang terjadi saat masa pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan dan sebaliknya. Peralihan ini disebabkan perubahan garis edar matahari atau pola pemanasan udara di Indonesia.

Hal ini lebih lanjut mengubah tekanan udara dan arus angin di tingkat lokal dan regional. Dalam masa transisi ini muncul dua pola angin, yaitu angin timuran atau pola angin musim kemarau dan baratan atau pola angin pada musim hujan.

Angin puting beliung biasanya terjadi pada sore atau malam hari. Pembentukannya disebabkan oleh suhu udara yang panas dan kelembaban yang tinggi pada pagi hingga siang hari.

Kondisi ini mengakibatkan pertumbuhan cepat awan yang menjulang tinggi. ”Gangguan cuaca ini akan berpeluang terjadi dalam tiga hari ke depan,” ungkap Hary Tirto Jatmiko, Kepala Sub-Bidang Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Senin (27/9) di Jakarta.

Daerah yang akan terpengaruh oleh kondisi pancaroba meliputi Sumatera bagian utara dan selatan; pesisir barat Sumatera; Bangka Belitung; sebagian besar Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat; bagian barat dan tengah Nusa Tenggara Timur; Kalimantan Barat; Kalimantan bagian selatan; Kalimantan Timur bagian utara; Sulawesi bagian barat, selatan, serta tenggara; beberapa lokasi di Sulawesi Tengah; Sulawesi Utara bagian utara dan barat; wilayah utara dan tengah Maluku; serta barat, tengah, dan wilayah selatan Papua.

Samudra Hindia

Sementara itu, menurut Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian, peluang puting beliung terjadi di selatan wilayah Indonesia yang berhadapan dengan Samudra Hindia karena suhu muka lautnya yang di atas normal.

Sementara itu, perairan di wilayah tengah Indonesia, antara lain Laut China Selatan dan Laut Jawa, bersuhu relatif lebih rendah.

Puting beliung terbentuk akibat pertemuan massa udara bersuhu panas yang naik dan bersuhu dingin yang turun. Kondisi ini menyebabkan perputaran angin. Pertemuan massa udara itu ditunjang oleh adanya jajaran pegunungan dan perbukitan di Jawa hingga Nusa Tenggara.

Banjir dan longsor

Pada masa peralihan atau pancaroba, menurut Hary, selain puting beliung, perlu diwaspadai pula ancaman lain, yaitu banjir dan tanah longsor.

Menghadapi angin ribut, penduduk yang mendiami bangunan non atau semipermanen perlu waspada akan ancaman terbangnya atap bangunan.

Selain itu, pepohonan tinggi dan besar perlu dirapikan percabangannya serta diperiksa kerapuhan batang dan kekuatan perakarannya.

Apabila terjadi hujan di atas dua jam, dataran rendah berpotensi mengalami genangan air karena air tanah telah jenuh sehingga air mengalir di permukaan. Kejenuhan tanah di dataran tinggi dan pegunungan juga perlu diwaspadai karena membuka peluang terjadinya longsor. (YUN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau