Mafia amerika latin

Kartel Menguat, Negara Tak Berdaya

Kompas.com - 28/09/2010, 08:35 WIB
Oleh Pascal S Bin Saju

KOMPAS.com — Para kepala negara di Amerika Latin kini mulai kewalahan menghadapi jaringan kartel narkoba yang semakin kuat. Perdagangan narkoba telah merasuk dan merusak hingga ke tatanan sosial, politik, budaya, dan ekonomi.

Aktivitas ilegal ini juga selalu diwarnai tindak kriminal yang melampaui rasa kemanusiaan, bahkan amat mematikan.

Tindak kriminal, seperti pembunuhan atau pembantaian massal, pemerkosaan, penculikan, dan perampokan, menjadi persoalan keseharian. Di Meksiko, misalnya, kejadian terbaru dan paling heboh adalah pembantaian 72 imigran gelap oleh kartel Los Zetas di Tamaulipas, Meksiko, medio September.

Begitu ganasnya sehingga pada pertemuan di kantor PBB di New York pada pekan ketiga September ini, para kepala negara dari Amerika Latin mengungkapkan kegelisahan mereka.

Di depan sidang Majelis Umum mereka mendesak PBB mengeluarkan kebijakan global yang lebih koheren untuk memerangi narkoba.

Presiden Panama Ricardo Martinelli menyebut obat bius atau narkoba sebagai ”senjata pemusnah massal”.

Presiden Meksiko Filipe Calderon menyatakan terus memerangi kartel karena narkoba merusak masa depan bangsa.

Presiden El Salvador Mauricio Funes mengatakan, perdagangan narkoba mengancam keamanan global.

”Dewasa ini, fokus kekerasan masih terletak di perbatasan AS dan teritorial kecil kami. Besok boleh jadi kekerasan akan melebar lagi ke kota-kota besar di banyak negara lain, seperti di AS, Eropa, Afrika, dan Asia,” kata Presiden Funes di depan Majelis Umum PBB.

Pendorong Omzet miliaran dollar AS tampak menjadi pendorong utama di balik semua itu. Penyelundupan obat bius dari Amerika Selatan ke AS saja diperkirakan bernilai 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 117 triliun (dengan kurs Rp 9.000) per tahun.

Jika pada tahun 2006 para anggota mafia narkoba baru ”bergerilya” di 50 kota di AS, saat ini setidaknya mereka sudah bergerilya di lebih dari 200 kota di AS yang terjangkit narkoba.

Selama ini Meksiko, Kolombia, dan negara lain di Amerika Tengah menjadi surga kartel obat bius. ”Namun, satu kesalahan besar kalau kita hanya berpikir bahwa hanya Meksiko dan kawasan Amerika Tengah yang harus mengatasi kejahatan narkoba,” kata Funes sambil mengajak dunia internasional membantu memerangi kartel.

Langkah kontradiktif AS memang telah berjanji mengalokasikan dana 1,4 miliar dollar AS selama tiga tahun untuk memerangi perdagangan narkoba untuk Amerika Selatan.

Sebagian besar dana itu dialokasikan untuk Meksiko, negara paling rawan dalam hal kekerasan akibat perang antarkartel dalam perebutan jalur perdagangan narkoba.

Sejak Calderon menjadi Presiden Meksiko pada tahun 2006, sudah 28.000 orang yang tewas akibat kekerasan dalam perdagangan narkoba.

Kolombia, produsen kokain terbesar di dunia, telah menerima miliaran dollar AS bantuan militer AS.

Presiden Kolombia Juan Manuel Santos menggembar-gemborkan pengalaman negaranya soal memerangi kartel obat bius. Ia juga mengecam negara-negara yang tidak tegas dalam perang melawan perdagangan narkoba.

Presiden Kolombia menyerukan peningkatan strategi internasional untuk melawan kartel. Namun, Santos juga menawarkan untuk berbagi pengalaman negaranya dalam memerangi kartel obat dengan negara lain.

”Sangat penting untuk kita bersatu menghadapi masalah ini. Kami mencatat ada beberapa negara yang melakukan langkah-langkah kontradiktif. Di satu sisi, mereka berperang melawan perdagangan obat-obat terlarang, tetapi di sisi lain mereka juga mengesahkan penggunaannya,” kata Santos tanpa merinci siapa yang menjadi tertuduhnya.

Terus menjalar Negara-negara di Amerika Tengah sedang berjuang keras menekan berbagai aksi kekerasan akibat menguatnya pamor sejumlah kartel narkoba di Meksiko.

Mereka terus meningkatkan perang melawan kartel di dalam negeri, sekaligus memperluas jaringan kerja sama di selatan dan mengintensifkan operasi di negara-negara tetangga.

Peru, produsen kokain terbesar kedua di dunia, juga membutuhkan bantuan lebih untuk memerangi perdagangan narkoba. ”Saya pikir kita perlu lagi melihat kerja sama internasional karena Peru menerima bantuan yang begitu kecil,” kata Menteri Luar Negeri Jose Garcia Belaunde.

AS adalah negara dengan konsumen kokain terbesar di dunia, kata Devida, kantor pengendali narkoba nasional Peru. Maraknya kejahatan di AS sering erat kaitannya dengan perdagangan narkoba.

AS mengucurkan dana sekitar 120 juta dollar AS untuk menekan perdagangan narkoba di wilayah Andean. Akan tetapi, aliran bantuan dari AS berkurang setelah Washington memprioritaskan Kolombia.

Para pemimpin di Amerika Latin pantas gelisah karena masalah sosial yang ditimbulkan perang antarkartel, yang berpotensi mengancam stabilitas negara. Terbunuhnya pemimpin kartel Meksiko, seperti El Grande, La Barbie, Nacho Coronel, dan Arturo Beltran Leyva, tidak berarti kartel melemah.

Masih ada gangster besar yang belum ditangkap. Salah satunya bos kartel Sinaloa, Joaquin Guzman alias El Chapo.

Pasaran narkoba asal Amerika Selatan tidak saja di AS, tetapi juga Eropa dan Asia setelah melewati sejumlah negara di Afrika Barat. Kartel Los Zetas bahkan berkolaborasi dengan mafia Ndrangheta di Calabria, Italia. Jaringan perdagangan narkoba sudah mengepung kita. (AFP/AP/REUTERS/WASHINGTON POST)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau