Latihan kontraterorisme

Umar Patek Sandera Penumpang Pesawat

Kompas.com - 28/09/2010, 10:39 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Gembong teroris Umar Patek bersama 14 rekannya pagi ini melakukan aksi teror di Bandara Ngurah Rai, Bali. Para teroris menyandera puluhan penumpang dan karyawan bandara di pintu 1, terminal keberangkatan internasional. Pihak Umar Patek meminta Pemerintah Indonesia memenuhi sejumlah tuntutan mereka jika masih ingin para sandera keluar dalam keadaan hidup.

"Yang pertama kami minta rekan-rekan kami yang ada di LP Nusakambangan dan LP Cipinang dibebaskan, kemudian kami minta uang tebusan Rp 20 miliar. Terakhir, kami minta pesawat untuk membawa kami pergi dari sini," ujar Umar Patek di tengah-tengah para sandera.

Jika pemerintah tidak memenuhi tuntutan mereka, Umar Patek cs akan meledakkan Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Sampai saat ini Pemerintah Indonesia masih melakukan negosiasi dengan pihak teroris untuk membebaskan para sandera.

Begitulah suasana latihan kontraterorisme yang dilakukan Koppasus dengan tentara elite Australia (SAS) di Bali, Selasa (28/9/2010) ini. Latihan itu mensimulasi serangan teroris, seperti kejadian di Mumbai, India, ketika para turis disandera di Bandara Ngurah Rai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau