Transportasi

2011 Kemacetan di DKI Bakal Sangat Parah

Kompas.com - 28/09/2010, 13:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada tahun 2011 kemacetan lalu lintas di Jakarta bakal sangat parah. Bahkan, bisa-bisa lalu lintas nyaris lumpuh karena diprediksi jumlah kendaraan pribadi—mobil dan sepeda motor—di Jakarta dan sekitarnya akan bertambah sekitar satu juta unit.

"Laju kendaraan tahun depan diprediksi rata-rata kurang dari 10 km per jam. Sekarang saja sudah 10 km per jam. Beberapa survei sudah menunjukkan hal itu," kata Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Darmaningtyas saat dihubungi via telepon, Senin (27/9/2010) sore.

Menurut Darmaningtyas, untuk mengatasi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya, bukan cuma kendaraan saja yang perlu dibatasi, tetapi juga harus ada penghentian pembangunan gedung-gedung baru yang dapat menimbulkan efek kemacetan lalu lintas yang sangat signifikan.

"Seperti bangunan mal, rusunawa, apartemen, dan sejenisnya. Atau, boleh saja membangun gedung, tapi tidak menyediakan lahan parkir sehingga para pengunjung dipaksa naik alat transportasi massal," katanya.

"Konsekuensinya, pemerintah harus menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, dan terjangkau secepatnya," ujarnya.

12 juta lebih

Berdasarkan data yang dihimpun Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, saat ini jumlah kendaraan di Jakarta sebanyak 11.362.396 unit. Rinciannya, sepeda motor  8.244.346 unit dan mobil 3.118.050 unit.

"Tahun 2011 tidak kurang dari 12.062.396 kendaraan akan memadati jalanan di Jakarta," ujar Koordinator Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya Komisaris Indra Djafar kepada wartawan, Senin (27/9/2010) siang.

Faktor yang mengakibatkan terjadinya ledakan jumlah kendaraan itu adalah permintaan masyarakat akan kendaraan setiap tahun yang terus meningkat. Sebagai gambaran, setiap hari sekitar 1.000 sepeda motor baru muncul di jalanan.

Seperti diberitakan, guna menghindari kemacetan pada jam-jam sibuk, Dinas Perhubungan DKI akan mengkaji pembatasan operasional truk-truk pengangkut kontainer di jalan tol dalam kota.

Usulan membatasi truk pengangkut kontainer pada jam sibuk masuk jalan tol dalam kota dinilai resep yang salah untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta. Menurut pakar perkotaan Universitas Trisakti, Franciscus Trisbiantara, kemacetan di jalan tol dalam kota terjadi sebagai dampak tingginya jumlah kendaraan pribadi.

"Solusinya bukan dengan membatasi truk dan kontainer menggunakan jalan tol," katanya melalui telepon di Jakarta.

Dampak pembatasan truk kontainer melewati jalan tol dalam kota, kata Trisbiantara, bisa mengganggu perekonomian nasional.

"Mana ada pemilik kendaraan berat yang bersedia menanggung kerugian kalau kiriman barang terlambat. Mereka akan langsung memotong gaji sopir dan akibatnya untuk menutupi semua kerugian pengusaha, harga barang dinaikkan. Itu sangat mengerikan," katanya.

Sifat pengusaha dan pemilik kendaraan, kata Trisbiantara, tidak ada yang mau rugi jika terjadi gangguan kiriman barang dan kebutuhan pokok akibat terlambat sampai di tujuan.

"Pemilik kendaraan dan pengusaha mana yang mau rugi karena macet atau kiriman terhambat, maka akibatnya harga barang akan dinaikkan sehingga yang menanggung secara langsung adalah masyarakat," katanya.

Anggota DPRD DKI, WA William Yani, menyatakan prihatin dengan kemacetan di jalan tol di DKI sebagai akibat lemahnya penegakan hukum.

"Seharusnya petugas yang membiarkan truk dan kontainer di jalur cepat ditindak tegas bukan hanya truk dan kontainer yang diproses oleh petugas di jalan tol, tapi petugasnya harus dibersihkan sehingga kemacetan di jalan tol bisa benar-benar terurai," katanya. (ded/moe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau