Obat Herbal Belum Efektif Atasi Diabetes

Kompas.com - 29/09/2010, 08:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Penarikan sejumlah obat-obat diabetes karena efek sampingnya yang merugikan tubuh membuat pasien-pasien yang selama ini bergantung pada obat-obat kimia mulai melirik obat herbal. Padahal, obat herbal dinilai belum mampu menyembuhkan penyakit diabetes.

"Obat herbal yang ada di pasaran umumnya belum diteliti dengan baik. Ada obat herbal yang baik untuk menurunkan gula darah, tapi memiliki efek samping sehingga tidak bisa dipakai menjadi obat," kata Prof Sarwono Waspadji dari Divisi Metabolik-Endokrin, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI di sela acara 19th Jakarta Diabets Meeting, Diabetes Lipid & Vascular Risks, Selasa,(28/09/10)

Menurut Sarwono, obat herbal belum mampu menyembuhkan diabetes, namun memiliki manfaat. "Biasanya obat herbal manfaatnya banyak, tapi ada risikonya. Ada (obat herbal) yang manfaatnya sedikit, namun risikonya tinggi. Ada yang tidak  bermanfaat dan resikonya besar sehingga tidak bisa dipakai. Dan biasanya, manfaat  dari obat herbal berasal dari placebo, " kata Prof Sarwono.

Sarwono menambahkan, obat herbal yang umumnya dipakai di masyarakat saat ini tidak ada manfaatnya, tetapi tidak memiliki resiko sehingga boleh dipakai.

“Misalnya kami pernah meneliti pare, brotowali, kemudian teh 919, tetap saja tidak ada hasilnya. Awalnya booming, semua orang pakai tapi sekarang sudah tidak ada bekasnya karena hasil blow up saja, “ kata Prof Sarwono.

Selain itu, Sarwono juga meluruskan anggapan orang yang mengira bahwa obat herbal pasti alami. “Orang berpikir bedanya yang satu kimia dan satu bukan. Padahal obat herbal juga ada unsur kimianya dan obat kimia awalnya berasal dari obat herbal yang diekstrak,” kata Prof Sarwono.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membekukan izin edar obat diabetes produksi GlaxoSmithKline (GSK) yakni Avandia, Avandamet dan Avandaryl tablet. Ketiga obat tersebut dibekukan izin edarnya dan ditarik dari peredaran karena adanya informasi dari Badan Obat Eropa (EMA) bahwa ketiganya mengandung rosiglitazone tunggal dan kombinasinya.

Penarikan didasarkan atas pertimbangan obat diabetes yang mengandung rosiglitazone dalam bentuk tunggal ataupun kombinasi dapat menyebabkan efek samping kardiovaskular berupa gagal jantung.

Menurut data Indonesian Diabetic Prevalence tahun 2006, jumlah penderita diabetes di perkotaan mencapai 8,2 juta orang sementara di pedesaan mencapai 5,5 juta orang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau