BANTEN, KOMPAS.com — Pane (40), kenek Kopaja 608 yang dikendarai Saefudin (48), korban kerusuhan di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) kemarin, Rabu (29/9/2010) mengaku bersyukur berhasil menyelamatkan diri saat kerusuhan terjadi. Pada saat itu, Pane masuk ke areal perkantoran Medco bersama anak-anak sekolah dan penumpang bus Kopaja 19 yang tengah melintas wilayah kerusuhan tersebut.
"Bersyukur saya bisa kabur ke dalam perkantoran nggak jauh dari pengadilan itu. Massa udah banyak menyerbu, tapi saya dan anak-anak sekolah diamankan petugas satpam ke dalam kantor," ujar Pane, Kamis di Tangerang, Banten.
Pada saat itu, aku Pane, ada empat bus Kopaja yang disewa kelompok dari Ambon untuk mengantarkan mereka ke Jalan Ampera. Tiba pukul 13.00 WIB di jalan tersebut, tiba-tiba massa dari kelompok lain menyerbu ke arah bus Kopaja. "Pas itu langsung nyerbu, saya nggak tahu ada apa, belum sempat markir, sedang nurunin penumpang saya tiba-tiba kelompok itu menyerang bus kami. Kami disuruh penumpang untuk menunggu di bus," ujarnya.
Akan tetapi, massa kemudian semakin membabi buta dan mulai menyerang para sopir dan kenek. Para sopir dan kenek bus ini pun lari berhamburan, termasuk Pane dan Saefudin. Saat melarikan diri, massa mengacung-acungkan parang sambil mengejar mereka. "Ada sekitar empat lima orang yang ngejar saya dan Saefudin. Mereka acungkan itu senjata. Jarak saya dan Saefudin sekitar 2 meter," ujarnya.
Namun, naas bagi Saefudin yang kemudian tertangkap kawanan yang tengah bertikai dan akhirnya mendapati luka bacok. "Saya kalut dan lari ke dalam kantor itu, satpam lalu menggembok gerbang, jadi kelompok itu nggak bisa masuk," ungkap Pane.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang