Waranggana Penjaga Martabat Tayub

Kompas.com - 01/10/2010, 01:56 WIB

Waranggana dituntut menjaga dan mengembalikan tayub dari pandangan buruk. Selama 23 tahun Musrini memilih jalan ini.   Dengan gemulai, dalam balutan busana ketat yang menonjolkan bagian-bagian terindah tubuh perempuan, sang waranggana tayub seolah menghipnotis penonton untuk menari bersama. Gending-gending Jawa dan lantunan tembang Musrini begitu merdu merayu, menuntun jiwa dan raga untuk ikut menari.   Pada usia ke-39, Musrini tetaplah waranggana yang cantik dan menarik. Dia merupakan salah satu waranggana, penyanyi dan penari, terbaik di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Suaranya pun merdu. Berkat pengalaman panjangnya di dunia tayub, Musrini pun didapuk Dinas Pariwisata Nganjuk sebagai Ketua Himpunan Pramugari, Waranggana, Pengrawit Langen Bekso yang dibentuk Desember 1985.   Tayub merujuk pada tarian rakyat yang familiar pada masyarakat Jawa. Tayub adalah kesenian yang menggabungkan gerakan tari gambyong dengan gerakan tari yang lain, juga suara, dan beragam gending Jawa. Tayub merupakan tari pergaulan bagi masyarakat Jawa.   Selain menjadi hiburan acara pernikahan atau khitanan, tayub juga menjadi pergelaran tradisi dalam nyadran (ziarah dan bersih-bersih makam) setiap bulan Sya’ban. Selama sebulan menjelang Ramadhan, desa-desa di Nganjuk merayakan nyadran. Biasanya hari yang dipilih Kamis malam. Namun, keramaian perayaan ini sudah terasa seminggu sebelum acara digelar.   Ada pandangan “lain” dari sebagian orang tentang tayub, yaitu kebiasaan para waranggana dan pengrawit sebelum naik pentas. Mereka terlebih dahulu melewati prosesi tabur bunga di punden yang diyakini memiliki kekuatan mistis dengan tujuan menghormati leluhur atau sesepuh yang mbahurekso daerah tersebut.        Dahulu, puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, tayub menjadi satu-satunya hiburan yang paling diminati, terutama oleh kaum laki-laki. Dengan gamelan sebagai pengiring, maka para waranggana tayub akan menari, membiarkan dirinya dicolek sana-sini, untuk menggoda laki-laki yang suka mencari kesenangan. Tentu semua itu tidak gratis. Laki-laki yang ikut menari dan menjadi pasangan waranggana, harus memberi sawer kepada waranggana pasangannya. Terkadang terjadi booking kencan di luar acara tayub. Kesenian tayub juga identik dengan mabuk-mabukan, perkelahian, dan kesan-kesan buruk lainnya.   Sebelum ada Himpunan Pramugari, Waranggana, Pengrawit Langen Bekso, Musrini pernah mengalami pahit dan kelamnya kehidupan malam sebagai penari tayub. Saat pertama kali pentas dia hanya dibayar Rp 10 ribu. Kini masyarakat yang nanggap tayub Musrini harus merogoh kocek minimal Rp 5 juta untuk sekali pentas.   Dulu pun, tayub dipandang sebelah mata oleh kaum perempuan yang merasa mempunyai martabat, kaum bangsawan, atau kaum yang merasa punya akhlak mulia. Mereka menilai tayub kotor dan keji, sehingga waranggana tayub sering menjadi bahan pergunjingan.   Sejak dibentuk Himpunan Pramugari, Waranggana, Pengrawit Langen Bekso, kesenian tayub di Nganjuk lebih ditertibkan, juga waranggana, pramugari, maupun pengrawitnya. Mereka secara berkala diberi pembinaan mental serta pembinaan teknis gerakan dan ragam tari, suara, dan ragam gending. Waranggana yang dinyatakan lulus diberi nomor induk dan diperbolehkan pentas.   “Sekarang tidak ada yang memandang sebelah mata kepada waranggana seperti kami. Karena kami berperan sebagai seniwati yang bersusila, berbobot, dan sopan,” kata Musrini.   Perempuan cantik yang pernah menikah dua kali ini juga bangga menjadi bagian dari kesenian tayub. Dia berjanji akan mempertahankan dan mengembangkan kesenian yang telah digelutinya sejak 23 tahun silam itu agar tetap pada porsinya, yaitu menjadi bagian budaya yang tak akan lekang oleh waktu.   Karena ditunjuk sebagai Ketua Himpunan Pramugari, Waranggana, Pengrawit Langen Bekso, Musrini pun mengemban amanat Pemerintah Daerah Nganjuk untuk melestarikan kesenian tayub dan menjadikannya lebih baik dan diterima seluruh lapisan masyarakat.(VHR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau