PYONGYANG, KOMPAS.com — Kim Jong Un untuk pertama kali tampil di depan publik. Jong Un berfoto bersama ayahnya, Kim Jong Il, dan semua pembesar Partai Pekerja Korea. Foto itu dipublikasikan hari Kamis (30/9/2010). Hal ini makin memperkuat keyakinan Jong Un telah resmi diangkat sebagai putra mahkota.
Dalam foto yang dimuat di halaman depan koran Pemerintah Korea Utara, Rodong Sinmun, tersebut, Kim Jong Un diduga kuat sosok yang duduk di barisan depan, berwajah bulat, mengenakan setelan safari gaya Mao, dan hanya terpisah satu kursi dengan ayahnya.
Berita yang dimuat kantor berita KCNA menyebut Kim Jong Un ada di antara ratusan pejabat Partai Pekerja Korea yang berfoto bersama di depan Istana Kumsusan tersebut, tetapi tidak menyebut dengan pasti posisinya dalam foto. Meski demikian, tidak ada sosok lain dalam foto tersebut yang kira-kira seusia Jong Un.
Kementerian Unifikasi Korea Selatan menduga sosok tersebut memang Kim Jong Un.
”Sekarang (faktanya) sudah dibawa ke publik bahwa dia adalah penerus (ayahnya). Foto itu menunjukkan Kim Jong Un sekarang adalah orang nomor dua di eselon kekuasaan Korea Utara,” ungkap Park Young Ho, pengamat politik dari Korean Institute for National Unification.
Selain foto tersebut, televisi Pemerintah Korut juga sempat menayangkan video rekaman suasana rapat Partai Pekerja Korea, Selasa. Dalam rekaman tersebut, terlihat Kim Jong Un duduk di barisan depan, menyimak pidato, dan ikut berdiri untuk bertepuk tangan setelah pidato selesai.
Cheong Seong Chang, peneliti dari Sejong Institute di Seoul, mengatakan, foto tersebut menandakan perubahan signifikan cara kerja rezim di Korut ke depan.
”Kim Jong Un akan mengurusi semua masalah dalam negeri, sementara Kim Jong Il akan menangani isu-isu yang lebih besar. Mulai sekarang, kita akan lebih banyak melihat dan mendengar soal Kim Jong Un daripada Kim Jong Il,” ujar Cheong.
Sebelum ini, Jong Un lebih dulu diumumkan mendapat pangkat jenderal bintang empat, lalu diangkat sebagai salah satu Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, dan anggota Komite Sentral partai komunis yang berkuasa.
”Publikasi foto ini sama saja dengan deklarasi bahwa Jong Un adalah putra mahkota,” kata profesor Yang Moo Jin dari University of North Korean Studies, yang menyebut Jong Un berwajah mirip kakeknya, Kim Il Sung, tetapi berpostur pendek dan gempal seperti ayahnya.
Tak berubah
Meski suksesi kepemimpinan Korut sudah semakin nyata, para pengamat berpendapat kebijakan negara tersebut, terutama dalam hubungan internasional, tidak akan berubah setelah dipegang pemimpin baru.
Saat berpidato di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, Rabu, Wakil Menteri Luar Negeri Korut Pak Kil Yon menegaskan, negaranya akan terus menambah arsenal nuklir untuk menahan apa yang ia sebut sebagai agresi militer bersama Korsel dan AS di wilayahnya.
”Selama masih ada kapal induk AS berlayar di sekitar wilayah laut kami, kekuatan nuklir kami tidak akan kami tinggalkan dan justru akan terus diperkuat,” kata Pak.
Pyongyang selama ini dikenal selalu menggunakan aset-aset militer dan sikapnya yang tak pernah bisa ditebak untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan dari dunia internasional. Strategi ini diperkirakan tak akan diubah.
”Cara terbaik mendapatkan bantuan dari dunia luar adalah dengan memanfaatkan kontradiksi di antara kekuatan-kekuatan besar (di dunia), ditambah sedikit ’pemerasan’ nuklir. Ini sudah terbukti berhasil beberapa dekade terakhir ini. Mereka tak akan mengubahnya dalam waktu dekat ini,” tutur Andrei Lankov, pakar masalah Korut dari Universitas Kookmin, Seoul.
Dari Seoul dilaporkan, perundingan militer pertama dalam dua tahun antara kedua negara di desa perbatasan Panmunjom, Kamis, berakhir nihil. (AP/Reuters/AFP/DHF)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang