Manajemen air

Intrusi Air Laut Sudah Sampai Monas?

Kompas.com - 01/10/2010, 10:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.comWilayah DKI Jakarta yang terkena intrusi air laut sudah mencapai 10 kilometer dari pantai. Bahkan, beberapa peneliti mengatakan, intrusi air laut itu telah mencapai Monas.

Menurut Sari (32), warga Kelurahan Utan Panjang, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, ia tidak pernah mengonsumsi air sumur untuk keperluan masak. ”Airnya memang bening, tetapi rasanya payau. Untuk keperluan masak, saya memakai air PDAM,” katanya.

Kejernihan air tanah juga diakui Dawud (59), warga Kelurahan Senen. Sama seperti Sari, Dawud juga menggunakan air tanah hanya untuk mandi dan mencuci. Hal ini ia lakukan sejak tahun 1970-an ketika bermukim di situ.

Wilayah Jakarta Barat bagian utara, seperti Kamal di Kecamatan Kalideres dan Kapuk di Kecamatan Cengkareng, merupakan wilayah yang paling parah terkena intrusi air laut. Air sumur warga di daerah itu sudah terasa payau.

Hasyim, salah satu warga Kampung Belakang, Kamal, mengatakan, air sumur di rumahnya sudah terasa payau sehingga tidak bisa dikonsumsi. ”Untuk air minum dan memasak, saya beli dari orang jual air keliling,” ujar Hasyim yang tinggal di daerah itu sekitar 10 tahun.

Hal yang sama dituturkan warga Tegal Alur, Cengkareng, Priyatno. Ia mengatakan, air sumur di sekitar tempat tinggalnya sudah tidak bisa dikonsumsi untuk minum atau memasak. Dia pun terpaksa membeli air karena tidak ada aliran air dari PDAM ke kampungnya. Jarak laut dari kedua wilayah itu sekitar 3 kilometer.

Jika di kawasan Kemayoran air payau itu masih berwarna bening, di kawasan Jakarta Utara air sudah tampak kekuningan, keruh, dan seperti berminyak. Romelah (47), warga Semper Barat, Cilincing, mengatakan, air kuning ini sudah dirasakan sejak lama. ”Mungkin sudah 20 tahun lebih. Dulu, waktu saya masih kecil, saya mandi pakai air sumur timba. Sekarang, kalau mandi pakai air sumur, bisa gatal-gatal,” ujarnya.

Intrusi di kawasan Jakarta Utara terjadi tidak hanya di air sumur dangkal, tetapi juga di sumur air dalam. Hal ini karena selain air laut masuk dari dalam, Jakarta Utara juga kerap dilanda rob (gelombang pasang). Parahnya, permukaan tanah di Jakarta Utara lebih rendah daripada permukaan laut sehingga air genangan rob tidak mudah mengalir kembali ke laut.

Usman (53), warga RT 03 RW 07, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, mengatakan, rob selalu terjadi tiap bulan. Namun, sudah 10 tahun terakhir kondisinya semakin parah. Jika dulu ketinggian air hanya sebatas betis orang dewasa, sekarang ketinggian air rob mencapai perut orang dewasa.

Permanen

Menurut Prof Dr Otto SR Ongkosongo, peneliti utama dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Selasa, kedalaman intrusi air laut di Jakarta berkisar 100-120 meter di bawah permukaan tanah. ”Intrusi ini bersifat permanen sehingga bila sudah mencemari tanah suatu daerah, akan selamanya kandungan garam dan air laut tetap akan ada,” kata Otto.

YP Chandra, Wakil Ketua Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia, mengatakan, fenomena penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka air laut tidak harus ditanggapi dengan kekhawatiran berlebihan. Dengan upaya antisipasi yang tepat, ancaman Jakarta tenggelam bisa dihindari.

”Penurunan tanah dan naiknya air laut juga terjadi di banyak tempat di dunia. Fenomena ini terjadi dalam jangka waktu lama dan terpantau. Oleh karena itu, jika mulai diterapkan penataan kota yang tepat, ancaman tenggelam tidak akan terjadi,” kata Chandra.

Dengan kondisi seperti ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga dinilai sudah waktunya mengubah manajemen air. Dengan perubahan ini, terjadinya penurunan permukaan tanah dan intrusi air laut bisa dicegah laju kecepatannya.

Firdaus Ali, pengajar Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus memikirkan untuk tidak segera membuang air hujan ke laut. Air hujan sebaiknya ditampung di danau, situ, dan kolam penampungan sebagai tandon air hujan. Air itu dapat dimanfaatkan sebagai air baku untuk diolah menjadi air bersih bagi Jakarta. (FRO/ART/NEL/ECA/ARN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau