JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis kenaikan inflasi pada bulan September 2010 sebesar 0,44 persen. Dengan demikian, dalam sembilan bulan terakhir laju inflasi sudah mencapai 5,28 persen. Angka ini, nyaris melampaui target inflasi yang ditetapkan pemerintah di angka 5,3 persen hingga akhir tahun.
Kepala BPS Rusman Heriawan berpendapat sulit bagi pemerintah untuk mempertahankan target. "Tinggal 3 bulan lagi menutup 2010. Kalau bicara 5,3 kan berarti sudah tercapai. Kurang 0,2 poin saja. Tapi bukan berarti inflasi kita sampai akhir ini bisa lebih tinggi dari 6 persen," ungkapnya.
Menurut Rusman, bisa saja dalam tiga bulan terakhir di 2010 akan terjadi deflasi dan mengurangi angka inflasi yang ada sekarang. Belajar dari pengalaman di 2009, deflasi pernah terjadi di bulan November. "Jadi, meski kita sekarang 5,28 persen, mudah-mudahan tak tembus enam persen. Saya lebih cenderung akan di atas 5,3 tapi tidak akan melampaui enam persen," tambahnya.
Mengenai kemungkinannya, Rusman mengatakan bisa saja. Namun, pasalnya, saat ini harga beras masih bertahan di level tinggi meski harga komoditi lain sudah turun. Oleh karena itu, pencapaian di bawah 6 persen diharapkan dari penurunan harga beras.
Saat menetapkan target 5,3 persen, lanjut Rusman, sepertinya pemerintah belum mempertimbangkan faktor eksternaliti secara matang. Pemulihan ekonomi dunia memang memperbaiki pertumbuhan ekonomi, konsekuensinya permintaan tinggi dan harga barang-barang tinggi. Ini disebut imported inflation.
Tapi di lain pihak, Indonesia memperoleh berkat karena nilai tukar rupiah menguat. "Kalau rupiah lemah, imported inflation mungkin bisa jadi primadona dalam inflasi kita. Tapi karena rupiah menguat, jadi ada balance di situ," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang