Pelarangan

Belanda Bakal Tersandung Jilbab

Kompas.com - 01/10/2010, 15:51 WIB

KOMPAS.com — Geert Wilders sejenak bisa memperoleh angin segar. Soalnya, kelompok koalisi Partai Liberal dan Kristen Demokrat di Belanda, andai berkuasa, bakal merealisasikan larangan berjilbab. Usut punya usut, Wilders yang acap dikenal sebagai sosok anti-Islam ini memang lumayan bersemangat mengusulkan pelarangan yang dimaksud.

Wilders pun dikenal sebagai tokoh sayap kanan yang kontroversial. Dia berkampanye untuk menghentikan apa yang ditudingnya sebagai "Islamisasi di Belanda". Pekan depan, Wilders dijadwalkan untuk disidang dengan dakwaan pidato yang menghina Islam.

Sejatinya, pelarangan itu merupakan semacam janji kedua partai itu tatkala menjalankan pemerintahan. Tapi, jalan menuju ke realisasi itu dihadang berbagai kebuntuan dialog. Kristen Demokrat membutuhkan satu pertemuan lagi pada Sabtu (2/10/2010) untuk meratifikasi perjanjian tadi. 

Hal lain yang juga masuk dalam perjanjian kedua kubu itu adalah pemotongan anggaran 24 miliar dollar AS pada 2015. Tak cuma itu, koalisi juga bakal mewujudkan pengetatan peraturan imigrasi sekaligus peningkatan jumlah petugas kepolisian.

"Reformasi penting akan berlangsung di Belanda," demikian pernyataan pemimpin Partai Liberal, Mark Rutte, saat mempresentasikan pakta perjanjian yang diberi judul "Bebas dan Bertanggung Jawab"'.

"Kami ingin mengembalikan negara ini ke warga pekerja Belanda," imbuhnya sebagaimana warta AP dan AFP, Jumat.

Selisih

Partai Liberal (VVD) dan Kristen Demokrat (CDA) memiliki 52 kursi dari 150 kursi di parlemen. Kenyataan ini bisa membuat mereka membentuk sebuah pemerintahan minoritas. Namun, mereka bergantung kepada 24 kursi milik Partai Kemerdekaan untuk meloloskan rancangan undang-undang ini dengan selisih mayoritas kecil.

Di bawah perjanjian, Mark Rutte selaku Pemimpin VVD akan menjadi perdana menteri untuk membentuk kabinet dengan CDA yang diketuai Maxime Verhagen.

Verhagen menggambarkan perjanjian ini sebagai perjanjian yang sangat bagus dari pemerintah. "Saya yakin ini adalah sebuah perjanjian yang bisa menyenangkan bagi semua anggota Partai Kristen Demokrat," katanya.

Bagaimanapun, perjanjian ini justru menimbulkan kemarahan dari sejumlah anggota parlemen dari Kristen Demokrat yang tidak mau bekerja sama dengan Wilders. Para anggota parlemen dari CDA itu terlibat dalam pembicaraan panjang terkait isu ini dan keputusan bergabung dengan koalisi akan diumumkan pada pertemuan khusus, Sabtu.

Saat ini Belanda dipimpin oleh pemerintahan sementara sejak bulan Februari ketika koalisi pimpinan mantan Ketua CDA, Jan Peter Balkenende, jatuh karena keterlibatan militer Belanda di Afganistan. Pemilihan umum pada bulan Juni menempatkan Partai Kemerdekaan sebagai pemenang dengan memperoleh kursi terbanyak di parlemen.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau