JAKARTA, KOMPAS.com — Potensi bencana geologi di kawasan Selat Sunda akan diatasi melalui rekayasa teknologi sehingga Jembatan Selat Sunda tetap dapat dibangun dengan mencermati kemungkinan bahaya yang akan timbul.
"Akan ada rekayasa teknologi untuk mengatasi itu semua," kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak menjawab pers di Jakarta, Jumat (1/10/2010).
Sebelumnya, pihak terkait seperti Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengadakan lokakarya kondisi bahaya geologi dalam rangka pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS).
Menurut Hermanto, hampir semua wilayah di Indonesia ini memang berpotensi bencana. "Di Kobe, Jepang, pun ada sebuah jembatan yang bergeser hingga 1 meter akibat gempa," katanya.
Karena itu, tegasnya, pihaknya kini sedang mengevaluasi seluruh studi yang pernah dilakukan terkait rencana pembangunan JSS.
"Dari berbagai informasi itu, kami juga akan melakukan pemetaan Batimetri di dasar laut Selat Sunda sehingga nanti akan diketahui, pada titik-titik mana yang bisa dilalui untuk tiang pancang jembatan dan mana yang tidak," katanya.
Hal itu juga, tegasnya, memungkinkan secara teknologi bagi pihak terkait menentukan bentang jembatan dan kedalaman tiang pancang.
"Yang pasti, kami mempertimbangkan teknologi suspensi untuk JSS dan kabel gantung," katanya.
Hermanto mengatakan, secara teknologi, kemungkinan dampak tsunami terhadap JSS akan dipertimbangkan juga. "Semuanya akan dihitung," katanya.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan, potensi bahaya gempa bumi tektonik di kawasan Selat Sunda terjadi akibat tumbukan lempeng pada zona tunjaman yang berada pada radius 500 km dari wilayah tapak pembangunan jembatan.
Menurut Sukhyar, gempa bumi zona tunjaman tersebut dapat mempunyai kekuatan maksimum di atas 8,0 skala Richter (SR). Selain akibat tunjaman lempeng, gempa bumi di kawasan ini dapat berasal dari aktivitas patahan aktif.
"Tiga patahan aktif regional yang terletak pada radius di bawah 50 km di daratan Sumatera dan dasar laut Selat Sunda adalah patahan aktif Teluk Lampung, patahan aktif Panaitan/Rajabas, dan patahan aktif Sukadana. Adapun di daratan Jawa dikenal dengan patahan aktif Banten," katanya.
Sementara itu, gelombang tsunami di kawasan Selat Sunda pernah terjadi pada 1883, yakni saat letusan Gunung Api Krakatau.
Selain akibat letusan gunung api dan tsunami, di kawasan tersebut dapat terjadi gempa bumi tektonik kuat yang mematahkan lantai Selat Sunda pada zona tunjaman dan zona patahan Sumatera di Selat Sunda.
"Keberadaan potensi bahaya geologi ini bukanlah suatu hal yang harus ditakuti atau menjadi penghalang pembangunan yang telah dicanangkan, melainkan merupakan suatu peringatan dini agar diwaspadai kemungkinan terjadinya dan diantisipasi dengan rekayasa teknik penanggulangannya," kata Sukhyar.
Pada acara Asia Pacific Ministerial Conference On Public Private Partnership for Infrastrusture Development 2010 awal tahun ini di Jakarta, Presiden SBY menawarkan skema kerja sama pemerintah dan swasta untuk pembangunan JSS.
Jembatan sepanjang 31 kilometer ini butuh dana lebih dari Rp 100 triliun.
Selain menghubungkan dua pulau besar dengan total penduduk terbesar di Indonesia, JSS yang dijadwalkan selesai pada 2025 ini juga akan meningkatkan konektivitas sesama negara di Asia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang