Penyerangan ahmadiyah

Istri Yusuf: Semua Dihancurin

Kompas.com - 02/10/2010, 06:39 WIB

BOGOR, KOMPAS.com — Pascabentrokan antara warga dan jemaah Ahmadiyah di Kampung Cisalada, Desa Ciampea Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (2/10/2010) pagi kondisi aman, warga setempat mulai keluar rumah untuk menyaksikan perusakan yang telah terjadi.        Pukul 03.00 WIB situasi di lokasi bentrokan warga terjaga aman, hingga pukul 06.00 WIB beberapa warga yang merupakan jemaah Ahmadiyah yang tadinya bersembunyi di dalam rumah kini sudah kembali keluar rumah.        Mereka saling mendatangi rumah kerabat yang terkena aksi penyerangan, sekadar melihat dan menanyakan kabar, dan saling bercerita peristiwa tersebut.       Seperti yang terjadi di rumah M Yusuf Karim, salah seorang jemaah Ahmadiyah yang rumahnya menjadi sasaran amukan massa.       Rumah Yusuf rusak dilempari warga dengan batu, televisi dan peralatan rumahnya hancur diamuk massa, satu unit mobil Kijang Rover keluaran tahun 1999 hangus terbakar.       "Habis semua dihancurin, televisi dipecahkan, lemari diacak-acak," cerita Siti, istri Yusuf, kepada kerabat yang mendatangi rumahnya.        Rumah Yusuf berjarak sekitar 20 meter dari Masjid Attaufik yang menjadi sasaran amukan massa.       Konflik warga yang diduga berasal dari Kampung Kopi dengan jemaah Ahmadiyah yang berada di Kampung Cisalada sudah berlangsung lama.       Berawal dari isu akan dipindahkannya jemaah Ahmadiyah yang berada di Parung ke Cisalada dan jemaah akan membangun masjid lebih besar dari sebelumnya.       Warga setempat menolak adanya pembangunan masjid tersebut, warga sempat mendatangi jemaah dan meminta menghentikan pembangunan.       Tidak terjadi kericuhan karena aksi warga sempat dimediasi oleh Polres Bogor antara kedua warga bersama pemda setempat.       Mediasi dilakukan dengan kesepakatan pembangunan masjid dihentikan. Proses mediasi akan dilanjutkan setelah Lebaran.       Kapolres Bogor AKBP Tomex Korniawan menyebutkan, awal mula terjadinya keributan saat salah seorang warga dari Kampung Kopi menanyakan tentang kelanjutan mediasi antara warga.       "Salah seorang warga itu berniat ingin menanyakan kelanjutan mediasi kepada salah satu anggota Satpol PP yang tinggal di kampung ini. Petugas Satpol PP tersebut tidak bisa memberikan jawaban. Saat hendak balik, ada orang yang melukai warga tersebut sehingga memancing amarah warga," jelasnya.       Ada dua warga yang diserang oleh orang yang tidak dikenal, salah satu korban bernama Rendi Apriansah (15), seorang lagi juga seorang pemuda. Keduanya lalu dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.        Informasi dari beberapa petugas bahwa korban penyerangan sudah kembali pulih dan sudah boleh pulang. Aksi penyerangan warga dilakukan secara spontanitas, warga mengamuk karena adanya penyerangan terhadap perwakilan warga, dan pihak Ahmadiyah juga telah menyandera seorang anak dari warga Kampung Kopi.       "Kita sudah berhasil memediasi kedua belah pihak, anak yang dikira disandera juga sudah kita amankan. Menurut ketua RT-nya, bukan menyandera, melainkan justru menyelamatkan," jelas Tomex.        Insiden penyerangan yang dilakukan warga tersebut merusak sejumlah bangunan, di antaranya, satu unit masjid milik jemaah Ahmadiyah yang terbakar bagian karpet dan kaca-kaca pecah, dua unit rumah hangus terbakar, dua rumah rusak berat, dan sekitar 15 rumah ikut dirusak oleh warga.        Warga juga membakar satu unit mobil Kijang Rover dan satu sepeda motor. Kapolres menyebutkan, pihaknya masih melakukan penyelidikan pelaku penusukan, pihaknya juga telah mendapatkan ciri-ciri pelaku.       Ia menegaskan, upaya hukum akan dilakukan dengan menindak pelaku penusukan dan perusakan. Hingga pagi ini aparat kepolisian, Brimob, dan TNI lengkap dengan senjata laras panjang masih terlihat berjaga-jaga di sekitar lokasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau