Al Qaida Berencana Serang Eropa

Kompas.com - 03/10/2010, 01:08 WIB

BERLIN, Kompas.com - Pemimpin nomor tiga Al Qaida disebut-sebut berada di belakang rencana serangan berantai terhadap sejumlah kota utama Eropa, dengan pola serangan mirip insiden Mumbai. Perihal sosok di balik rencana serangan yang berhasil digagalkan itu diungkapkan Mingguan Jerman, Der Spiegel, Sabtu (2/10/10).

Dalam edisi terbarunya yang baru beredar di pasar mulai Senin mendatang itu, Der Spiegel melaporkan Syeh Yunis al-Mauretani adalah tokoh Al Qaida yang merancang rencana serangan itu. Rencananya itu ikut didukung Ahmad Siddiqui, warga negara Jerman yang kini ditahan di Penjara Pangkalan Udara Amerika Serikat di Kabul Afghanistan, Bagram.

Jaringan pemberitaan ABC dan Sky News, Rabu lalu, melaporkan bahwa agen-agen intelijen Barat mencium rencana serangan Al Qaida ke kota-kota utama Inggris, Perancis, dan Jerman. Serangan tersebut rencananya melibatkan sejumlah militan yang akan beraksi mirip pelaku serangan Mumbai, India, yang menewaskan 166 orang, dua tahun silam.

Menurut Der Spiegel, Ahmad Siddiqui (36) adalah sumber informasi yang mungkin telah memicu peningkatan kewaspadaan keamanan agen-agen intelijen Jerman.

Terkait masalah ini, agen intelijen Jerman diperkirakan mengunjungi Afghanistan dalam waktu dekat untuk memeriksa Siddiqui. Siddiqui pun bertemu Syeh Yunis al-Mauretani di Mir Ali, daerah Pakistan yang dikuasai para pemimpin suku, sebelum penangkapannya di Kabul awal Juli lalu.

Warga Jerman asal kota pelabuhan Hamburg ini juga dilaporkan mengenal Muhammad Atta, salah seorang pembajak pesawat dalam insiden 11 September 2001.

Der Spiegel lebih lanjut melaporkan bahwa meningkatnya tingkat ancaman keamanan itu juga didasarkan pada intensitas komunikasi para tersangka via telepon dan email yang disadap lembaga pengawas elektronik (GCHQ) Inggris.

Komunikasi antara delapan warga Jerman dan dua warga Inggris yang ada di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan dengan rekan mereka di Jerman dan Inggris membahas cara mendapatkan senjata dan amunisi, serta lokasi persembunyian yang aman.

Rencana serangan berantai terhadap London, Inggris, dan sejumlah kota utama di Perancis dan Jerman itu berhasil digagalkan badan-badan intelijen Eropa.

Laporan Jaringan TV Sky News 28 September lalu menyebutkan, serangan tersebut diduga akan dilakukan para gerilyawan yang berbasis di Pakistan, dan disebut-sebut berhubungan dengan Al Qaida.

Redaktur Luar Negeri Sky News, Tim Marshall, mengatakan, meningkatnya serangan udara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Pakistan dalam beberapa pekan terakhir itu berhubungan dengan upaya Barat menggagalkan rencana serangan ke kota-kota Eropa tersebut.

Mengutip sumber-sumber intelijen, Sky menyebutkan rencana serangan kelompok Pakistan itu mirip dengan pelaku serangan Mumbai, India, tahun 2008. Ketika itu, sekelompok orang bersenjata menyerang beberapa target di Mumbai, termasuk Hotel Taj Mahal yang mewah dan stasiun kereta api utama kota itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau