Indonesia Belum Lepas dari Stigma G30S

Kompas.com - 03/10/2010, 22:18 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Bangsa Indonesia masih belum mampu lepas dari jerat stigma pascatragedi Gerakan 30 September 1965. Hal ini disampaikan antropolog dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, I Ngurah Suryawan.

"Tragedi Gerakan 30 September 1965 (G30S) memunculkan stigma yang merupakan awal luluh lantaknya solidaritas sosial dan relasi kemanusiaan bangsa Indonesia dan sampai saat ini belum sepenuhnya pulih," katanya di sela-sela bedah buku Kuasa Stigma dan Represi Ingatan karya Tri Guntur Narwaya di Yogyakarta, Jumat (1/10/2010).

Ia mengatakan, tragedi G30S telah meruntuhkan identitas bangsa Indonesia dan melukai rasa kemanusiaan antaranak bangsa.

"Rezim Orde Baru dengan segala stigmatisasi, propaganda, indoktrinasi, dan sejarah tunggal tentang G30S memikul tanggung jawab sejarah yang besar," katanya.

Menurut dia, stigmatisasi dan propaganda yang dilakukan rezim Orde Baru berkembang menjadi sebuah kesadaran kolektif bangsa Indonesia yang hingga kini sulit dihapuskan.

"Saat rezim Orde Baru berkuasa, penulisan sejarah dibangun secara hitam-putih untuk menunjukkan siapa pendukung dan penentang serta pelaku subversif dalam sejarah," katanya.

Orde Baru, menurut dia, menempatkan militer dan elite kekuasaan pendukungnya sebagai pahlawan dan sentral penulisan sejarah bangsa Indonesia.

"Komunisme dan Islam ekstremis dijadikan ’kambing hitam’ untuk melanggengkan kekuasaan. Pada saat itu tidak ada yang berani menggugat kebenaran tunggal tersebut," katanya.

Ia mengatakan, pascareformasi 1998, beragam gugatan yang muncul atas versi tunggal milik rezim Orde Baru tentang G30S menjadi hal yang sangat konstruktif bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.

"Sebesar apa pun kuasa sejarah tersebut, selalu ada ruang untuk menggugatnya. Tidak ada penulisan sejarah yang sama sekali tidak terbantah. Gugatan atas versi tunggal Orde Baru menjadikan sejarah lebih demokratis, beragam, dan kritis," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau