JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah ancaman amblesan tanah yang semakin dalam, pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan tetap melanjutkan pembangunan di wilayah utara. Pembangunan ini akan disesuaikan dengan standar nasional serta memperhatikan faktor lingkungan.
Berdasarkan penelitian Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta bekerja sama dengan peneliti geodesi dari Institut Teknologi Bandung, wilayah Jakarta Utara mengalami penurunan muka tanah paling besar dibanding wilayah lain.
Hal tersebut ditunjukkan melalui data penelitian selama delapan tahun terakhir, di mana kawasan Muara Baru jeblok hingga 116 cm. Di wilayah Kelapa Gading, amblesan tanah mencapai kedalaman 47 cm.
"Penurunan tanah di daerah utara memang cukup signifikan, tapi bukan berarti tidak boleh dibangun karena bangunan-bangunan di daerah utara menggunakan pondasi tiang pancang yang berdiri di atas tanah keras," kata Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI, Putu Indiana kepada Kompas.com, Senin (3/10/2010).
Sebelumnya, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Muhammad Tauchid Tjakra Amidjaja pernah mengatakan, pemprov DKI terus memantau dan mengendalikan agar permukaan tanah tidak mengalami penurunan terus-menerus. Salah satu caranya dengan membatasi pengambilan air tanah, yang tahun ini mencapai 8,5 juta meter kubik.
Selanjutnya, pemprov akan tetap meneruskan program pembangunan sarana dan prasarana, termasuk di wilayah Jakarta Utara. Setiap tahun Pemprov DKI melakukan penelitian terhadap kekuatan infrastruktur tersebut.
Sebelumnya pula, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menegaskan amblesnya sebagian badan Jalan RE Martadinata beberapa waktu lalu tidak akan menghentikan upaya pemprov DKI untuk melanjutkan pembangunan di wilayah tersebut. Sebab, katanya, seluruh bangunan tersebut telah disesuaikan dengan standar nasional. Pemprov DKI juga telah melarang sistem dewatering, yakni membuang air pada tanah basah terutama pada pembuatan basement.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang