4 Kendala "Public Speaking"

Kompas.com - 04/10/2010, 14:17 WIB

KOMPAS.com - Kemampuan berbicara dan tampil di depan publik bisa dilatih dan dipelajari. Ilmu ini sangat berguna untuk menunjang berbagai profesi, karena hampir semua profesi bersentuhan dengan publik, dengan dua orang bahkan lebih. Untuk memiliki keterampilan public speaking, Anda juga perlu memahami empat kendalanya. Bukankah dengan mengenali masalah, Anda akan lebih mampu menghadapi berbagai kendala?

Presenter TV Choky Sitohang berbagi pengalaman dan passion-nya menjalani profesi public speaker kepada 38 finalis Pemilihan Puteri Indonesia (PPI) 2010 saat masa karantina di kediaman Mooryati Soedibyo, Menteng, Jakarta, beberapa waktu lalu.

1. Melupakan potensi diri

Menurut Choky setiap orang punya potensi. Prinsip inilah yang perlu disadari sejak dini. Jadi, jangan pernah membatasi talenta yang ada dalam diri Anda, tegasnya. Anda juga harus menyadari kemampuan diri serta batasan kemampuan yang ada pada pribadi Anda. Dengan berbekal prinsip ini, Anda sangat mampu mengembangkan potensi dengan terus belajar dan mengasah talenta.

2. Meredupnya kepercayaan diri
Kurangnya kepercayaan diri menghambat Anda mengeluarkan potensi dalam diri saat tampil di depan umum. Kunci sukses public speaking, salah satunya, memupuk kepercayaan diri Anda. Pahamilah bahwa tak perlu menjadi orang sempurna untuk mengaplikasikan public speaking.

"Anda tetap bisa tampil dengan kemampuan yang kecil," tegas Choky, menambahkan bahwa orang yang lancar berbicara di depan umum bukan karena mahir sejak lahir.

Apapun apresiasi orang yang mendengarkan Anda berbicara, hargai saja. Maju terus dengan apa yang Anda miliki. Tak perlu melakukan apa yang orang lain inginkan. Namun Anda tetap harus mendengarkan suara atau kritik yang membangun, dan lakukan apa yang benar, papar Choky.

Kesiapan mental seperti inilah yang membantu seseorang meraih kembali kepercayaan dirinya.

3. Tak menguasai materi
Selain kesiapan mental, public speaker juga penting untuk selalu siap dengan materi yang akan disampaikannya. Public speaker adalah true messenger, kata Choky.

Pengalaman, background personal, sosial, juga pendidikan serta kapasitas talenta setiap orang berbeda. Faktor inilah yang memengaruhi keterampilan seseorang saat berbicara dan tampil di depan publik.

Meski begitu, semua faktor ini bukan menjadi pembenaran jika ternyata Anda belum sukses menjalani public speaking. Dengan kemauan untuk belajar dan menambah wawasan, kendala ketiga dalam public speaking bisa diatasi.
Dengan menguasai materi, pesan yang ingin disampaikan dapat diterima baik oleh publik. Tak menguasai materi adalah kondisi yang bisa terjadi saat Anda sebagai penyampai pesan maupun orang yang diminta pendapatnya atas suatu isu. Nah, cara Choky mengatasi kondisi ini adalah dengan memberikan materi atau jawaban yang sistematis.

"Untuk mendapatkan pointers yang tepat dan memilih kata yang tepat, Anda perlu memberikan jawaban yang sistematis. Jika tahu apa yang harus dijawab, mulailah dari landasannya, kemudian ungkapkan pengalaman, dan terakhir berikan opini Anda," jelasnya.

Jika tidak memahami materi, jujur saja apa adanya. Jangan menjawab apa yang Anda tak ketahui maksudnya. Katakan dengan cara yang santun dan tepat kejujuran Anda ini.

4. Tak menguasai khalayak

Cobalah untuk tetap rileks, sehingga Anda bisa menikmati saat bicara di depan umum dan tidak merasa terintimidasi.  Fokus pada apa yang ada bukan pada apa yang hilang, kata Choky.

Jika Anda salah bicara atau merasa tampil buruk, segera kembalikan fokus pada apa yang ada, bukan pada kesalahan yang baru saja Anda lakukan.

Untuk bisa menguasai khalayak, kekuatan ada di tangan Anda sendiri.

"Jangan curiga dengan audience, jika ada yang tidak mendengarkan Anda, fokus saja pada mereka yang mendengar. Humble tetapi powerful, inilah kuncinya," papar Choky.

Saat bicara cobalah untuk mengesampingkan jabatan. Jabatan atau status apapun yang melekat pada diri Anda bisa menjadi beban tersembunyi. Anda merasa harus sempurna bicara karena Anda adalah presenter ternama, misalnya. Tak apa salah, karena kesalahan adalah normal. Akui saja kesalahan begitu Anda melakukannya di depan umum.

"Jika salah berkata-kata, akui saja, dengan katakan 'maaf, ulangi' atau ulangi dengan kata yang lebih baik," Choky mencontohkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau