Konflik palestina-israel

Pemukim Yahudi Dituduh Membakar Masjid

Kompas.com - 04/10/2010, 18:00 WIB

RAMALLAH, KOMPAS.com - Sejumlah warga Palestina menuduh pemukim Yahudi membakar satu masjid di Tepi Barat.

Insiden ini berlawanan dengan upaya AS untuk meneruskan perundingan perdamaian yang terhenti oleh sengketa pembangunan permukiman, Senin (4/10/2010).

"Sebanyak 15 Al Quran dan beberapa karpet masjid ikut terbakar," kata pejabat dewan kota, Ali Thawabti, di desa Beit Fajjar.

Ini merupakan kejadian yang keempat kalinya sejak Desember sewaktu satu masjid di Tepi Barat dirusak oleh para pemukim Yahudi.

"Ketika warga melihat kobaran api, mereka langsung memadamkan kebakaran itu. Para pemukim kabur dengan Peugeot untuk melarikan diri," kata Thawabti.

Pihak militer Israel yang telah mengendalikan Tepi Barat sejak 1967 mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki kejadian di Beit Fajjar, dekat kota Bethlehem.

"Ini merupakan tragedi serius yang kami menganggap sebagai sangat gawat dan kami berusaha untuk mencari penanggung jawab kejadian ini secepatnya," ujar wanita juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Avital Liebowitz kepada Reuters.

Pada Mei lalu, warga Palestina menuduh pemukim Yahudi melakukan pembakaran masjid di desa lain Tepi Barat, Libban Al Sharqia, dekat kota Nablus.

Kebakaran itu dikatakan oleh pihak berwenang Israel sebagai akibat dari hubungan pendek arus listrik sewaktu pendirian bangunan.

Pada April, pemukim Yahudi diduga membuat gambar di tembok masjid di Hawara, dan pada Desember, Al Quran serta karpet juga dibakar di kota Yasuf. Tidak pernah ada sanksi atas pelaku pembakaran ini.

Jumlah pemukim Yahudi mendekati angka setengah juta jiwa di Tepi Barat serta kawasan sekitar Yerusalem yang diambil alih Israel dari Yordania pada perang Timur Tengah 1967.

Para pemimpin Palestina mengatakan pada Sabtu bahwa perundingan perdamaian yang telah berlangsung pada 2 September dengan Israel tidak akan dilanjutkan hingga penghentian sepenuhnya pembangunan permukiman Yahudi.

Penghentian sementara pendirian rumah selama sepuluh bulan yang berlangsung di Tepi Barat telah berakhir satu pekan lalu dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menolak tekanan perpanjangan waktu penghentian oleh AS dan dunia internasional.

Beberapa organisasi yang memantau hak asasi manusia di Tepi Barat mengatakan penyerangan pemukim Yahudi kepada warga Palestina dan harta mereka diduga semakin sering terjadi ketika para pemukim tersebut mengetahui setiap risiko bagi permukiman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau