Siapa kapolri baru

Timur untuk Redam Gejolak Internal Polri

Kompas.com - 04/10/2010, 20:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Komisi III DPR Tjatur Sapto Edy merespons positif pilihan akhir Presiden SBY terhadap Komjen Timur Pradopo sebagai calon Kapolri. Menurutnya, Timur merupakan win-win solution untuk meredam potensi konflik antarangkatan di internal Polri.

Timur berasal dari angkatan 1978. Ia dinilai cukup senior dan bisa diterima segala angkatan. Pilihan akhir Presiden ini mengejutkan sebab sebelumnya beredar tiga nama kuat, yaitu Komjen Imam Sudjarwo, Komjen Nanan Sukarna, dan Komjen Ito Sumardi.

"Kalau Pak Ito, Pak Imam, Pak Nanan ada resistensi di internal Polri. Pak Timur relatif bisa diterima secara legawa oleh Polri," kata Tjatur saat dihubungi wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (4/10/2010) malam.

Selain itu, Tjatur menilai, pilihan Presiden terhadap Timur bisa menyelamatkan calon-calon lain agar tidak ada yang "kehilangan muka". "Ini agar tidak ada yang losing face di berbagai angkatan dan institusi Polri. Pak Timur relatif senior dan cukup berpengalaman," kata dia. Timur juga diharapkan bisa menjadi pembangun solidaritas dan menuntaskan reformasi Polri dengan pengalaman yang dia miliki.   

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau