JAKARTA, KOMPAS.com--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa agama bukanlah instrumen atau dasar bagi siapapun juga untuk melakukan tindak kekerasan dan teror.
"Siapapun tidak boleh mengatasnamakan agama sebagai instrumen untuk melakukan tindak kekerasan dan teror," kata Presiden saat menyampaikan sambutan dalam acara silaturahmi dengan para peserta Musabaqah Hafalan Al-Qur’an dan Hadits Tingkat ASEAN dan Pasifik, di Istana Negara, Jakarta, Senin.
Presiden Yudhoyono berharap jangan sampai generasi muda menafsirkan makna jihad di dalam Al Quran secara keliru.
Penafsiran keliru itu, kata Kepala Negara, adalah mengartikan jihad sebagai jalan kekerasan dan menghalalkan segala cara.
"Janganlah menjadikan ajaran Islam sebagai tameng untuk membenarkan tindakan terorisme," kata Yudhoyono.
Generasi muda, menurut Presiden, seharusnya memaknai jihad sebagaimana mestinya, yaitu jihad melawan hawa nafsu, kemiskinan, keterbelakangan, perilaku korupsi, dan jihad untuk kesejahteraan bangsa dan negara.
Presiden menegaskan bahwa Islam itu damai dan teduh. Islam adalah agama yang cinta keadilan dan selalu menganjurkan kasih sayang, serta menjauhi permusuhan.
Melalui Al Quran, Islam mencegah perbuatan yang keji dan mungkar, katanya. "Al Quran dan Hadits juga mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk memelihara dan mempertahankan nilai-nilai luhur yang mulia, etika kehidupan yang baik, serta tata hubungan sosial yang harmonis dan bermartabat," kata Presiden.
Silaturahmi itu dihadiri oleh para peserta Musabaqah Hafalan Al Quran dan Hadits Tingkat ASEAN dan Pasifik.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Y. M. Dr. Sholeh bin Abdullah bin Humaid yang juga utusan resmi Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su’ud, Duta Besar Kerajaan Arab Saudi, dan para duta besar negara-negara sahabat untuk Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang