Pencalonan kapolri

Kenapa "Angin" Berembus ke "Timur"?

Kompas.com - 05/10/2010, 10:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mungkin hanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bisa menjelaskan, mengapa pilihan akhir calon Kapolri jatuh kepada Komjen Timur Pradopo. Selebihnya, hanya bisa menduga dan menganalisis.

Keluarnya nama Timur cukup mengejutkan. Dalam sebulan terakhir, Komjen Imam Sudjarwo dan Komjen Nanan Soekarna—yang diajukan Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri—disebut sebagai kandidat kuat.

Sehari sebelum Presiden menyerahkan nama calon Kapolri ke DPR, nama Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Ito Sumardi malah dikabarkan akan menjadi pilihan akhir Presiden.

Menjelang Senin (4/10/2010) siang, spekulasi kembali berubah. "Angin" berhembus ke arah "Timur". Paling tidak, itu yang dituliskan Wakil Ketua DPR, Pramono Anung dalam akun Twitter-nya.

Dalam hitungan jam pula, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal (Irjen) Timur Pradopo dimutasi dan mendapat kenaikan pangkat menjadi Komisaris Jenderal. Dia menjabat Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Mabes Polri. Pemutasian Timur memunculkan dugaan baru, dia akan menjadi "kuda hitam" yang akhirnya dipilih Presiden SBY.

Jawaban menjadi nyata saat Ketua DPR Marzuki Alie menyampaikan secara resmi bahwa Presiden mengajukan Timur sebagai calon tunggal Kapolri berdasarkan surat Presiden yang diterima sekitar pukul 19.15.

Lalu, mengapa Timur? Lagi-lagi, hanya Presiden yang bisa menjawabnya. Seorang sumber menyebutkan, semula pilihan sudah jatuh pada Nanan. Sosok Nanan, yang menjabat Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri dinilai layak menjadi Polri-1. Namun, kabar bahwa Nanan melakukan "safari politik" ke sejumlah partai menggoyahkan pilihan Presiden.

Mengapa bukan Imam? Ramainya pemberitaan mengenai hubungan kekerabatan Imam dengan keluarga Presiden ternyata cukup mengusik. Hingga akhirnya muncul nama Ito. Namun, menurut sumber pula, ada elite Polri yang tak happy dengan sosok Ito.

Wakil Ketua Komisi III Tjatur Sapto Edy memiliki analisis lain. Menurut dia, Timur merupakan pilihan tepat untuk meredam friksi antar-angkatan di internal Polri. Munculnya nama Nanan (angkatan 1978) dan Imam (angkatan 1980), kata Tjatur, menimbulkan konflik antar-angkatan.

Timur, meski berasal dari angkatan yang sama dengan Nanan, dianggap lebih moderat dan bisa diterima internal Polri. "Kalau Pak Ito, Pak Imam, Pak Nanan, ada resistensi di internal Polri. Pak Timur relatif bisa diterima secara legowo oleh Polri," kata Tjatur saat dihubungi wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Senin malam.

Sebaliknya, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso berpandangan, tak ada yang mengejutkan dari pilihan Presiden terhadap Timur Pradopo. Timur, dalam kalkulasi DPR, masuk dalam bursa kuat calon Kapolri. Dia bahkan memprediksi, langkah Timur dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR akan berjalan mulus.

"Dengan track record (rekam jejak) yang jelas, saya melihat Pak Timur tidak akan menghadapi halangan, mulus. Figurnya kelihatannya akan mudah diterima oleh DPR. Saya justru khawatir kalau Presiden kirim nama yang tidak disangka," ujar Priyo.

Berubahnya haluan "angin" ke arah Timur di saat-saat akhir dibantah Priyo karena adanya tawar-menawar politik antara kekuatan-kekuatan yang ada di lingkaran koalisi.

"Soal Kapolri kan hak prerogatif Presiden. Jangan dikaitkan dengan tarik-menarik kepentingan," katanya.

Sejumlah anggota Komisi III masih mempertanyakan alasan pilihan Presiden. Nasir Djamil mengharapkan, Presiden bisa menjelaskan alasan atas pilihannya tersebut. Timur juga harus mampu menjawab keraguan publik atas kepemimpinannya selama menjabat Kapolda Metro Jaya.

Pekan lalu, Ibu Kota dikagetkan dengan kasus bentrokan massa yang menelan tiga korban meninggal di kawasan Ampera, Jakarta Selatan. Belum lagi konflik di Ciketing, hingga catatan masa lalu Timur yang kembali diungkit, saat tragedi 1998, dia menjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau